Alarm Ekonomi Mulai Berdering, Fondasi RI Masih Bertahan

25 views
Oplus_131072

TOPIKINDONESIA.ID – Perekonomian Indonesia pada semester I 2026 masih menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen pada kuartal I. Capaian tersebut menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20 dan kawasan Asia, ditopang kuatnya konsumsi rumah tangga serta investasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen dengan kontribusi 54,36 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan kedua komponen tersebut menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

“Seluruh komponen pengeluaran tumbuh positif. Kontribusi terbesar konsumsi rumah tangga sebesar 54,36 persen dan tumbuh 5,52 persen. Total kontribusi konsumsi rumah tangga dan investasi mencapai 82,65 persen terhadap PDB,” ujar Amalia.

Di balik pertumbuhan yang solid, sejumlah indikator mulai menunjukkan tekanan. Inflasi tahunan pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen, mendekati batas atas target pemerintah sebesar 3,5 persen. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026, mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Tekanan juga terlihat pada nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS sebelum ditutup di level Rp17.985. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyebut kondisi tersebut dipengaruhi ketidakpastian global yang mendorong investor beralih ke aset aman.

“Kita menghadapi situasi di mana fly to quality akan terjadi ke dolar AS, sehingga capital outflow juga terjadi dan itu sudah kita alami,” kata Destry.

Sementara itu, sektor manufaktur turut memberikan sinyal perlambatan. Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke 46,9 pada Juni 2026 atau kembali berada di zona kontraksi akibat melemahnya permintaan.

Meski demikian, pemerintah menilai fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat berkat konsumsi domestik yang tetap terjaga dan prospek investasi yang masih positif. Namun, meningkatnya inflasi, defisit perdagangan, pelemahan rupiah, serta kontraksi manufaktur menjadi tantangan yang perlu diantisipasi pada paruh kedua tahun 2026.(*)