Modal Nekat, Mimpi Meloncat bagian 9

506 views

BAB 9: Dari Ladang ke Layar

NAMANYA Sarman. Dulu ia dikenal sebagai petani muda yang jarang bicara, lebih suka menyendiri di sawah ketimbang berkumpul di balai desa. Hidupnya sederhana—pagi mengairi ladang, sore merapikan cangkul, malam mendengarkan radio usang milik ayahnya. Tak ada yang menyangka, termasuk dirinya sendiri, bahwa suatu hari ia akan menulis berita dan dikutip media nasional.

Pertemuannya dengan Suara Desa bermula dari keluhan. Irigasi di wilayahnya rusak parah, tapi tak ada yang peduli. Ia mengirim pesan panjang ke redaksi, tak berharap banyak, hanya ingin didengar. Namun Rafi membalas. Bukan dengan formalitas, tapi dengan ajakan, “Kalau kamu bisa menceritakan lebih detail, kami akan bantu terbitkan.”

Itulah awal langkah barunya. Dengan kamera ponsel pinjaman dan catatan di buku tulis bekas, Sarman mulai belajar merekam peristiwa, mewawancarai tetangga, dan merangkai cerita. Ia bukan hanya menulis, ia menyuarakan. Dari situ, ia perlahan dikenal—bukan lagi sebagai petani biasa, tapi sebagai suara dari dusun yang sering luput dari sorotan.

Tulisan pertamanya mungkin belum sempurna. Tatanan bahasanya masih mentah, alurnya meloncat-loncat. Tapi Rafi melihat sesuatu yang tak bisa diajarkan: kejujuran. Sarman menulis bukan untuk mengejar sensasi, tapi karena benar-benar peduli.

Rafi memintanya terus menulis. Diedit, disempurnakan, lalu dipublikasikan dengan nama aslinya. Saat berita itu tayang, dan kemudian dibagikan ratusan kali di media sosial, Sarman membaca ulang berulang-ulang, seolah tak percaya bahwa itu tulisannya sendiri.

Setahun berlalu. Kini Sarman tak hanya menulis berita desa, ia juga melatih pemuda lain menulis laporan. Ia menjadi narasumber di pelatihan jurnalistik desa se-kabupaten, dan belakangan diundang kampus di kabupaten setempat untuk membagi pengalamannya. Kamera bekas yang dulu dibeli patungan dengan saudara-saudaranya kini tergantung di lehernya, seperti sahabat yang setia menemaninya ke mana pun ia pergi.

Namun bukan berarti jalannya mulus. Ada masa ketika warga desa mencibir, menuduhnya hanya cari muka. Ada pejabat desa yang menyindirnya di acara publik, “Sekarang petani jadi wartawan, nanti jangan-jangan mau nyalon bupati.” Tapi Sarman tetap menulis. Karena ia tahu, bukan pujian yang ia cari, melainkan perubahan.

Rafi bangga, tapi ia tak banyak bicara. Ia tahu, kisah seperti Sarman adalah inti dari mimpi Suara Desa: memberdayakan, bukan memanfaatkan. Dan dalam tiap naskah yang dikirim Sarman, dalam tiap foto kabut pagi di ladang yang diunggahnya, Rafi menemukan harapan bahwa media ini benar-benar tumbuh dari tanah tempat mereka berpijak.

Di akhir bulan itu, saat rapat daring redaksi, Sarman menyampaikan sesuatu yang membuat ruang sunyi sejenak:

“Aku cuma ingin bilang terima kasih. Dulu aku cuma tahu caranya menanam padi. Sekarang aku juga bisa menanam cerita.”

Rafi tersenyum di balik layar. Ia tahu, cerita seperti inilah yang tak akan pernah selesai ditulis.

…. Bersambung (ke bagian 10)….