Zaman Lagi Sulit, Ditambah Efisiensi: Waduh…

23 views

Ada satu kalimat yang belakangan sering terdengar di warung kopi, kantor, hingga media sosial: “Sekarang cari uang susah.” Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersimpan kenyataan yang dirasakan banyak orang.

Harga kebutuhan pokok tidak selalu bersahabat. Dunia usaha masih berhitung. Daya beli masyarakat belum benar-benar pulih. Pedagang berharap pembeli datang, sementara pembeli justru memilih menahan belanja.

Di tengah situasi seperti itu, datanglah satu kata yang sedang populer: efisiensi.

Secara teori, efisiensi adalah langkah yang baik. Anggaran dipakai lebih hemat, belanja diprioritaskan, pemborosan dipangkas. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan, uang rakyat memang semestinya dikelola sebijak mungkin.

Namun, efisiensi juga memiliki sisi lain. Ketika pemotongan dilakukan tanpa melihat dampaknya terhadap perputaran ekonomi, yang terasa bukan hanya angka di laporan keuangan, tetapi juga denyut kehidupan masyarakat.

Perjalanan dinas berkurang, hotel sepi. Kegiatan rapat dipangkas, usaha katering kehilangan pesanan. Percetakan menerima order lebih sedikit. Sopir, pelaku UMKM, hingga pekerja harian ikut merasakan efek domino yang mungkin tak pernah mereka bayangkan.

Ironisnya, masyarakat diminta tetap optimistis, sementara dompet mereka sedang belajar berhemat.

Efisiensi memang penting. Tetapi efisiensi bukan sekadar memangkas anggaran. Efisiensi yang baik adalah memastikan setiap rupiah menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat, bukan sekadar membuat angka belanja terlihat mengecil.

Negara memang harus hemat. Namun, jangan sampai terlalu hemat hingga roda ekonomi ikut melambat. Sebab, ekonomi bukan hanya soal laporan keuangan pemerintah, tetapi juga tentang dapur yang tetap mengepul, toko yang tetap buka, dan pekerja yang tetap memiliki penghasilan.

Zaman memang sedang sulit. Karena itu, kebijakan seharusnya menjadi penolong, bukan menambah beban. Sebab pada akhirnya, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya kata “efisiensi”, melainkan kepastian bahwa masih ada harapan untuk hidup yang lebih baik.(***)