TOPIKINDONESIA.ID – Musik senam pagi mengalun dari halaman SDN 1 Budidaya, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, Jumat (31/7/2026) pagi.
Puluhan anak berseragam kaos olahraga hijau kuning, bergerak mengikuti irama. Tawa mereka sesekali pecah, mengusir dinginnya pagi yang begitu cerah mengawal mentari bersinar.
Di antara barisan itu berdiri Akila, siswi kelas IV. Senyumnya lebar. Sulit membayangkan beberapa waktu lalu ia dikenal sebagai anak yang susah makan.
“Dulu aku enggak suka nasi,” katanya malu-malu.
Kini ia justru bercerita dengan bangga bahwa ia mulai menyukai nasi, sayur, ikan, dan telur. Bahkan, ia hafal cara mencuci tangan yang benar setelah rutin mengikuti kegiatan di sekolah.
Perubahan kecil itu menjadi potongan cerita dari program JAPFA for Kids yang tahun ini menyambangi 15 sekolah di Kabupaten Lampung Selatan.

Pagi itu bukan sekadar kegiatan senam. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) mengajak sejumlah jurnalis melihat langsung bagaimana program perbaikan gizi dan edukasi hidup sehat dijalankan melalui rangkaian Media Gathering Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026.
Di SDN 1 Budidaya, perubahan ternyata tidak hanya dirasakan anak-anak.
Kepala sekolah, Andri Sugiarto, mengingat betul delapan siswanya yang menjadi penerima manfaat program tersebut.
“Bukan hanya anak-anak yang berubah. Guru juga ikut belajar mendampingi mereka. Kami bahkan menugaskan dua guru khusus untuk mengawal program ini,” ujarnya.

Setiap pekan, anak-anak penerima manfaat membawa pulang tujuh butir telur. Jumlahnya mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi sebagian keluarga, telur-telur itu menjadi tambahan gizi yang berarti.
Rini, ibu dari Adiba Sakola Atmarini, mengaku perubahan putrinya terasa nyata.
“Dulu susah sekali makan nasi. Sekarang sudah mau makan nasi, sayur, ikan, sama telur. Kami masak telurnya sesuai kesukaan anak,” katanya sambil tersenyum.

Cerita serupa datang dari Rafika. Ia mengatakan telur dibagikan setiap Sabtu dan perkembangan anak dipantau setiap bulan. Bagi para orang tua, perhatian seperti itu memberi rasa tenang karena mereka tidak berjalan sendiri dalam memperbaiki pola makan anak.
Di balik kegiatan tersebut ada para fasilitator muda yang setiap pekan berkeliling sekolah.Iya, Tamara Karent (26), lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, bersama fasilitator lainnya yakni Debora Intan (24) Asal Tasikmalaya Jawa Barat itu mengaku memilih lebih banyak mendengarkan daripada menggurui.
“Kami belajar bersama orang tua dan guru. Yang paling penting adalah bagaimana kebiasaan makan sehat itu terus dilakukan di rumah,” ujarnya.

Menurut Tamara, dukungan sekolah, puskesmas, hingga keluarga membuat program berjalan lebih mudah. Kegiatan yang hanya dilakukan setiap Sabtu juga tidak mengganggu proses belajar mengajar.
“Kami baru mulai di Juli ini hingga Desember 2026 nanti,” kata Tamara diamini Debora.
Tahun ini, program JAPFA for Kids di Lampung Selatan telah menjangkau 15 sekolah, melibatkan 2.051 siswa dan 165 guru, dengan 157 anak menjadi penerima manfaat utama berdasarkan hasil pemeriksaan kondisi gizi.
Hingga tahun 2026, JAPFA for Kids telah menjangkau 217.706 siswa, 14.713 guru, dan 1.308 sekolah di 106 kabupaten/kota pada 28 provinsi di Indonesia. Program ini juga menunjukkan dampak nyata terhadap peningkatan status gizi siswa. Pada tahun 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau sebesar 51,5%. Sementara pada tahun 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5%.
“Dalam implementasinya, JAPFA for Kids menjalankan pendekatan yang terintegrasi, mulai dari pemberian protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA. Program ini juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala guna memastikan dampak program dapat terukur secara konsisten,” ujar Retno Artsanti, Head of Social Investment JAPFA.
Camat Sidomulyo, Fran, menilai kehadiran sektor swasta melengkapi berbagai program pemerintah dalam menekan angka stunting dan malnutrisi.

Ia menyebut kecamatan juga mengembangkan konsep 3K—Kandang, Kebun, dan Kolam—agar setiap keluarga memiliki sumber pangan bergizi di rumah.
“Kalau pemerintah dan swasta bergerak bersama, manfaatnya akan jauh lebih besar untuk anak-anak,” katanya.
Menjelang siang, kegiatan di SDN 1 Budidaya berakhir. Anak-anak kembali ke kelas dan sekalian menyantap makanan MBG dari pemerintah. Sebagian juga masih menggenggam botol minum, sebagian lagi bercanda sambil berlari kecil.
Di tangan mereka memang hanya ada sebutir telur untuk satu hari. Namun, di balik telur itu tersimpan harapan yang lebih besar: anak-anak yang tumbuh lebih sehat, lebih percaya diri, dan memiliki masa depan yang lebih baik.(taufik)












