Kolaborasi Dompet Dhuafa dan Pemprov Lampung: Wujudkan Indonesia Emas Melalui Generasi Bebas Stunting

19 views

TOPIKINDONESIA.ID – Pemerintah Provinsi Lampung menyelenggarakan Rapat Koordinasi Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (PPPS) pada Kamis (30/9 2026) di Gedung Pusiban.

Membuka acara tersebut, Wakil Gubernur Provinsi Lampung memberikan arahan dan menegaskan, “stunting adalah salah satu penyakit yang menyumbang ketidakproduktivan manusia menyambut indonesia emas, dan harus diawali dengan pencegahan stunting”.

Acara strategis ini mengumpulkan berbagai elemen kunci, mulai dari Ketua DPRD, Kapolda, Pangdam, Ketua Bappeda Provinsi Lampung, perwakilan kabupaten dan kota se-Lampung, hingga beragam organisasi profesi dan non-pemerintah. Momentum penting ini dipuncaki dengan sesi penandatanganan komitmen bersama aksi konvergensi pencegahan stunting Provinsi Lampung untuk tahun 2027.

Sebagai bentuk pengakuan atas kerja keras di lapangan, Dompet Dhuafa Lampung menerima apresiasi dan penghargaan langsung dari Pemerintah Provinsi Lampung atas kontribusinya sebagai organisasi non-pemerintah dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting di wilayah ini., Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Lampung, Bapak Nandrianto Suparno, hadir memaparkan praktik baik pengentasan gizi buruk melalui Program Pos Gizi.

Dompet Dhuafa sangat berharap pengalaman lapangan yang dibagikan ini dapat memberikan wawasan baru dan menjadi referensi aplikatif bagi seluruh tamu undangan lintas instansi yang hadir.

Merespons angka stunting nasional sebesar 19,8%, Pos Gizi Dompet Dhuafa menggunakan pendekatan Adaptive Positive Deviance (PD). Pendekatan ini mengajak masyarakat meniru perilaku positif keluarga di komunitasnya sendiri untuk mencegah malnutrisi. Selama siklus 90 hari, Pos Gizi tidak hanya mendistribusikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), tetapi juga mengedukasi empat pilar utama: praktik pemberian makan, pengasuhan anak, kebersihan lingkungan, dan akses pelayanan kesehatan.

Keberhasilan Pos Gizi ditopang oleh empat inovasi utama: kolaborasi lintas sektor (Community-Based), replikasi kebiasaan baik warga (Behavior Change), pengukuran berbasis hasil seperti kenaikan berat badan (Performance-Based), dan akses gizi lewat pangan lokal (Improving Access to Healthy Food). Menu yang disajikan dirancang memenuhi standar WHO, yakni 150-220 kalori per kilogram berat badan setiap harinya. Menu bervariasi ini dipraktikkan selama enam hari pertama, agar orang tua dapat dengan mudah menduplikasinya secara mandiri di rumah pada hari-hari berikutnya.

BACA JUGA:  Bertolak ke Belgia, Presiden Jokowi Hadiri KTT ASEAN-Uni Eropa

Sepanjang tahun 2023 hingga 2025, inisiatif ini sukses menjangkau 3.807 penerima manfaat. Hasilnya sangat terukur: 82% balita naik berat badan (200-600 gram), 49% status gizinya (BB/U) membaik, dan skor perilaku pola asuh keluarga meningkat dari 60% menjadi 84%.

Meskipun demikian, tantangan di lapangan masih nyata. Hasil skrining menunjukkan 84% keluarga masih memiliki kebiasaan merokok yang menghambat penyerapan gizi anak. Selain itu, cakupan imunisasi dasar di kelompok sasaran baru mencapai 78%. Ditemukan pula 54% anak berisiko ISPA dan 18% berisiko Tuberkulosis, sehingga harus dirujuk ke fasilitas medis terlebih dahulu agar intervensi gizi dapat bekerja maksimal.

Percepatan penurunan stunting adalah kerja kolektif jangka panjang. Seperti nilai yang selalu diyakini Dompet Dhuafa, “Pos Gizi Positive Deviance adalah gerakan lokal yang melahirkan perubahan nasional – dari dapur ibu ke masa depan anak Indonesia”. Mari bergandengan tangan wujudkan Lampung yang lebih sehat!.(***)