HUJAN turun rintik di sore yang kelabu. Raka duduk di bangku taman, mengenakan jaket abu-abu favoritnya—yang pernah dikomentari Dira sebagai “jelek tapi jujur.” Di tangannya, secangkir kopi yang tak lagi hangat. Di kepalanya, bayangan seseorang yang selalu datang tanpa undangan: Dira.
Tiba-tiba, dari kejauhan, bayangan yang selama ini hanya hidup dalam kenangan, muncul dalam wujud nyata.
“Raka?” suara itu seperti petikan gitar yang ia hafal nadanya.
Ia menoleh, dan di hadapannya, berdiri Dira. Rambutnya sedikit lebih panjang, matanya masih sama. Tajam dan lelah dalam waktu yang bersamaan.
“Dira…” Raka berdiri. Canggung. “Kamu nyata?”
Dira tersenyum tipis. “Nyata. Dan masih bisa kedinginan juga. Boleh duduk?”
Tanpa banyak bicara, Raka menggeser tubuhnya. Mereka duduk bersebelahan. Hening.
“Kopi kamu masih pahit?” tanya Dira membuka percakapan.
“Seperti dulu. Bedanya sekarang… gak ada yang nyicipin sebelum aku minum,” jawab Raka, menatap lurus ke depan.
Dira menunduk. “Aku minta maaf.”
“Buat yang mana?” Raka menoleh. “Buat pesan pendekmu yang bilang jangan tunggu? Atau buat semua pertanyaan yang kamu biarkan mengendap di aku selama dua tahun?”
Dira menarik napas. “Aku pergi karena takut, Rak. Takut kalau kita jadi, lalu hancur. Takut kamu kecewa. Aku takut tidak bisa mencintaimu seperti kamu mencintaiku.”
Raka menahan senyum getir. “Dan kamu pikir diam itu lebih baik dari kejujuran?”
“Waktu itu… iya.”
“Dan sekarang?”
Dira menatap matanya dalam. “Sekarang aku cuma ingin tahu… kamu masih marah?”
“Tidak,” kata Raka cepat. “Aku sudah berdamai. Tapi bukan berarti aku tidak rindu.”
“Rindu?” suara Dira nyaris berbisik.
“Ya. Rindu yang… semu. Yang tidak berharap balasan. Cuma ingin mengenang, tanpa mengulang.”
Dira menahan napas. “Jadi… ini bukan tentang mulai lagi?”
Raka menggeleng pelan. “Bukan. Kita sudah jadi masa lalu yang baik. Aku cuma ingin memastikan, kalau kamu bahagia. Biar aku bisa menyimpan rindu ini dengan tenang.”
Hening lagi. Lalu Dira tersenyum, kali ini lebih tulus.
“Terima kasih, Raka.”
Ia berdiri perlahan. “Aku harus pergi.”
“Pergi yang ini pamit, kan?” Raka menatapnya.
Dira mengangguk. “Pamit. Tapi kali ini… bukan untuk melarikan diri.”
Raka tersenyum. “Itu sudah cukup.”
Dira berjalan menjauh, menyisakan bayang samar di antara rinai hujan. Raka menatap langit, membiarkan setetes air hujan jatuh ke wajahnya.
“Merindumu seperti memegang bayangan. Selalu dekat, tapi tak pernah bisa digenggam,” bisiknya.
Dan ia tahu, untuk pertama kalinya, rindu itu tidak lagi menyakitkan—hanya tinggal kenangan yang tak selesai, tapi tak lagi menyiksa.(***)












