TOPIKINDONESIA.ID – Ketua DPD Partai Golkar Kota Bandar Lampung terpilih periode 2026–2031, H. Rycko Menoza SZP., MBA., menyerukan seluruh kader dan jajaran partai kembali merapatkan barisan setelah pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI yang digelar, Senin (21/9/2026) kemarin.
Seruan tersebut disampaikan Rycko dalam konferensi pers di Kantor Sekretariat DPD Partai Golkar Kota Bandar Lampung, Selasa (22/9/2026).
Didampingi sejumlah jajaran dan Ketua Steering Committee (SC) Musda XI, Ali Wardana, Rycko memberikan penjelasan terkait dinamika yang muncul dalam proses penyusunan kepengurusan pasca-Musda.
Rycko menegaskan, dirinya ingin membawa Partai Golkar Kota Bandar Lampung menjadi organisasi yang semakin solid dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Menurutnya, konsolidasi internal menjadi langkah penting setelah proses Musda selesai.
“Kita ingin membawa Bandar Lampung menjadi lebih baik. Untuk itu diperlukan kesolidan, menampung aspirasi kawan-kawan dalam kepengurusan, melakukan konsolidasi, serta bekerja secara cepat dan tanggap untuk memperkuat internal,” ujar Rycko.
Ia juga menegaskan tidak memiliki persoalan pribadi dengan kader maupun jajaran Partai Golkar Kota Bandar Lampung. Menurutnya, dinamika yang terjadi lebih berkaitan dengan komunikasi di antara anggota tim formatur saat membahas susunan kepengurusan periode 2026–2031.
“Alhamdulillah saya mendapatkan dukungan penuh secara aklamasi. Tetapi saya juga harus menghargai suara tim formatur,” katanya.
Rycko mengaku dinamika komunikasi dalam tim formatur menjadi beban tersendiri. Karena itu, ia berharap seluruh anggota formatur kembali duduk bersama untuk menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah dan mufakat.
“Semua formasi kepengurusan tidak ada masalah dengan saya. Saya ingin kepengurusan ini segera mendapatkan SK dan kita kembali bekerja,” tegasnya.
Ia menyatakan siap berkoordinasi dengan DPD Partai Golkar Provinsi Lampung maupun DPP Partai Golkar apabila diperlukan untuk menyelesaikan persoalan dalam proses penyusunan kepengurusan.
Rycko menilai Golkar Bandar Lampung memiliki kapasitas dan sumber daya kader yang kuat. Potensi tersebut, menurutnya, harus dikembangkan melalui keterbukaan serta penempatan kader berdasarkan kapasitas dan kemampuan masing-masing.
Ia berharap langkah tersebut dapat memperkuat organisasi sekaligus meningkatkan perolehan kursi legislatif Partai Golkar pada Pemilu 2029.
“Saya ingin kita semua kembali merapatkan barisan. Jangan sampai persoalan komunikasi menimbulkan kesan seolah-olah Golkar Bandar Lampung terpecah. Kita harus menjaga soliditas dan bersama-sama membesarkan partai,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua SC Musda XI Partai Golkar Kota Bandar Lampung, Ali Wardana, menjelaskan seluruh rangkaian Musda telah berjalan sesuai mekanisme organisasi.
Menurut Ali, mulai dari paripurna pertama hingga paripurna keempat, Musda berlangsung lancar tanpa hambatan berarti. Setelah seluruh agenda Musda selesai, penyusunan kepengurusan selanjutnya menjadi kewenangan tim formatur.
“Alhamdulillah, dari paripurna pertama sampai selesai pada paripurna keempat, Musda berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan. Selanjutnya diserahkan kepada tim formatur sesuai mekanisme dan prosedur yang berlaku,” ujar Ali.
Tim formatur Musda XI terdiri atas lima unsur, yakni Rycko Menoza selaku ketua terpilih sekaligus ketua formatur, Hanan A. Rozak dari unsur DPD Partai Golkar Provinsi Lampung, Darma Edi Thabrani dari unsur Karya Kekaryaan/Hasta Karya, serta dua perwakilan Pimpinan Kecamatan (PK), yakni M. Rifai, Ketua Golkar Kecamatan Kedamaian, dan Samsir, Ketua Golkar Kecamatan Rajabasa.
Namun, proses penyusunan kepengurusan kemudian diwarnai perbedaan pandangan. M. Rifai dan Samsir menyampaikan keberatan untuk membubuhkan paraf pada SK kepengurusan karena menilai proses penetapan nama-nama pengurus belum transparan dan terkesan sepihak.
Keduanya juga menyatakan tidak memperoleh kesempatan melihat secara utuh dokumen atau draf susunan kepengurusan. Mereka menilai rapat formatur untuk membahas susunan personalia kepengurusan belum berlangsung sebagaimana mekanisme yang seharusnya.
Dinamika tersebut kini menjadi pekerjaan rumah internal Partai Golkar Bandar Lampung. Rycko berharap persoalan komunikasi dan perbedaan pandangan di tubuh formatur dapat segera diselesaikan melalui dialog dan musyawarah sehingga kepengurusan periode 2026–2031 dapat segera disahkan dan seluruh kader kembali fokus bekerja.(*)












