Paradoks Zaman Ini, Hanya jadi Penonton

16 views

Lampung Tumbuh, Rakyat Melongo

Oleh: Redaksi Topikindonesia.id

Ada kabar baik dari Lampung: ekonomi tumbuh.

Kabar buruknya, kabar itu belum tentu sampai ke meja makan.

Angka pertumbuhan ekonomi terdengar gagah dalam laporan pemerintah. Persentase naik, investasi masuk, pembangunan digenjot. Kata-kata seperti hilirisasi, konektivitas, transformasi dan percepatan berbaris rapi dalam pidato.

Sementara di pasar, rakyat menggunakan kalkulator yang lebih sederhana: harga beras, minyak, telur, ongkos sekolah, listrik dan bensin.

Hasil hitungannya sering berbeda dengan laporan ekonomi.

Di atas kertas, tumbuh. Di bawah, mengeluh.

Inilah paradoks Lampung 2026.

Daerah ini memiliki tanah yang luas, hasil pertanian yang melimpah, perkebunan, pelabuhan, kawasan industri, pariwisata dan posisi strategis sebagai gerbang Sumatera. Secara teori, Lampung semestinya menjadi tempat yang subur bukan hanya untuk tanaman, tetapi juga untuk kesempatan.

Masalahnya, kesempatan kadang seperti buah matang: terlihat dari jauh, tetapi sulit dipetik.

Rakyat lalu melihat pemandangan yang agak ganjil. Dalam sejumlah sektor, nama-nama pemain besar tampak berulang. Kelompok usaha yang kuat memiliki akses yang lebih luas. Sementara pelaku kecil diminta bersabar, meningkatkan daya saing, mengikuti pelatihan, membuat proposal, mengurus administrasi, lalu menunggu.

Menunggu adalah keahlian yang cepat dikuasai rakyat.

Tentu, ini bukan tuduhan bahwa semua sektor telah dimonopoli. Monopoli adalah istilah serius dan harus dibuktikan dengan data serta proses hukum.

Yang lebih patut diperiksa adalah mengapa akses ekonomi terasa semakin terkonsentrasi?

Sebab demokrasi politik tanpa demokrasi kesempatan ekonomi bisa menghasilkan pemandangan yang aneh.

Rakyat boleh memilih siapa yang memimpin, tetapi belum tentu bebas memilih siapa yang menguasai pasar.

Mereka boleh mendirikan usaha, tetapi belum tentu memiliki modal untuk bertahan.

Mereka boleh ikut tender, tetapi belum tentu memiliki jaringan.

Mereka boleh memiliki tanah, tetapi belum tentu memiliki posisi tawar.

Di sinilah pembangunan mulai kehilangan humor.

Pemerintah mengatakan, “Mari kita bangun bersama.”

Rakyat menjawab, “Baik.”

Lalu rakyat bertanya, “Bagian kami di mana?”

Jawabannya kadang berupa spanduk.

Bersama Membangun.

Spanduk memang murah. Membagi kesempatan jauh lebih mahal.

Ada pula kebiasaan baru dalam pembangunan: ketika ekonomi tumbuh, angka pertumbuhan menjadi milik bersama. Tetapi ketika keuntungan terkonsentrasi, penjelasannya menjadi sangat teknis.

Ada istilah pasar.

Ada istilah efisiensi.

Ada istilah investasi.

Ada istilah daya saing.

Semua terdengar ilmiah. Rakyat akhirnya mengangguk, meski tidak sepenuhnya mengerti mengapa harga kebutuhan naik sementara penghasilannya berjalan seperti siput.

Barangkali rakyat memang kurang pandai membaca grafik.

Tetapi mereka cukup pandai membaca isi dompet.

Dan dompet memiliki cara sendiri untuk melakukan evaluasi pembangunan.

Kosong atau tidak.

Itulah sebabnya pemerintah daerah perlu berhati-hati dengan narasi pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi penting, tetapi siapa yang menikmati pertumbuhan itu jauh lebih penting.

Kalau investasi masuk, berapa banyak tenaga kerja lokal yang terserap?

Kalau industri berkembang, berapa banyak pemasok lokal yang ikut naik kelas?

Kalau proyek bernilai besar berjalan, berapa banyak UMKM yang ikut menikmati perputaran uangnya?

Kalau sumber daya Lampung semakin bernilai, siapa yang mendapatkan nilai tambah terbesar?

Pertanyaan seperti itu bukan sikap anti-investasi.

Justru sebaliknya.

Itu adalah cara memastikan investasi tidak berubah menjadi pesta yang hanya menyediakan tempat parkir bagi rakyat.

Lampung tidak kekurangan kekayaan.

Yang harus dipastikan adalah jangan sampai kekayaan itu hanya melahirkan kekayaan baru bagi mereka yang sejak awal sudah kuat.

Sebab jika pola itu terus terjadi, suatu hari rakyat mungkin tidak lagi bertanya apakah ekonomi tumbuh.

Mereka akan bertanya lebih sederhana:

“Tumbuh untuk siapa?”

Dan kalau pertanyaan itu semakin sering terdengar di warung kopi, pasar, kampung dan ruang-ruang kecil lainnya, pemerintah sebaiknya tidak buru-buru menyebut rakyat pesimistis.

Mungkin rakyat hanya sedang membaca keadaan dengan bahasa yang paling sederhana.

Sementara ekonomi sibuk membuat grafik,

rakyat sibuk membuat napas tetap panjang.

Lampung boleh tumbuh.

Investasi boleh datang.

Proyek boleh berjejer.

Perusahaan boleh berkembang.

Tetapi jangan sampai pada akhirnya rakyat hanya menjadi penonton yang membeli tiket untuk menyaksikan kemajuan di tanahnya sendiri.

Tabik Pun.