Ada Jejak Anggota Dewan di Balik Pengelola Wira Garden

314 views

TOPIKINDONESIA.ID – Wira Garden tak lagi sekadar destinasi wisata alam. Ia berubah menjadi ruang pertanyaan, tempat dua nyawa muda terenggut, sekaligus membuka lapisan baru soal siapa yang mengelola dan bagaimana kawasan ini digunakan.

Tragedi itu datang tanpa peringatan. Dua kader PMII yang merupakan mahasiswi Universitas Lampung terseret arus deras di aliran sungai dalam kawasan Wira Garden beberapa waktu lalu, tanpa sistem peringatan dini yang memadai, tanpa pengamanan yang terlihat di titik rawan. Keduanya tak terselamatkan pada 2 April lalu.

Namun duka itu justru memantik pertanyaan lebih besar. Bagaimana standar keselamatan di lokasi wisata tersebut? Siapa pengelola yang bertanggung jawab? Dan mengapa kawasan dengan risiko tinggi tetap terbuka tanpa mitigasi yang jelas?

Di tengah sorotan itu, nama Rizaldi Adrian mencuat. Ia disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan kepemilikan atau pengelolaan Wira Garden, isu yang kini menjadi perhatian publik, terutama karena posisinya sebagai pejabat publik.

Sorotan makin tajam ketika terungkap bahwa kawasan Wira Garden bukan hanya digunakan untuk aktivitas wisata. Lokasi ini juga kerap menjadi tempat Rizaldi yang notabennya anggota DPRD Kota Bandarlampung Dapil I untuk melaksanakan kegiatan rutinitas bulanan di luar kantor, seperti sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan.

Hal ini dibenarkan salah seorang warga Telukbetung yang pernah diundang untuk menghadiri agenda tersebut. “Ya, pernah diundang Pak Dewan Rizaldi, dua kali,” ucap warga ini, Rabu (8/4/2026).

Fakta ini menambah lapisan baru dalam polemik. Sebab, jika benar ada keterkaitan antara pejabat publik dengan pengelolaan lokasi sekaligus penggunaan rutin untuk kegiatan dapil, maka pertanyaan tentang batas antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi menjadi tak terelakkan.

Di lapangan, realitas berbicara keras. Area yang dikenal rawan arus tiba-tiba tetap menjadi ruang bebas aktivitas pengunjung. Minim rambu, tanpa pengawasan ketat, dan nyaris tanpa sistem mitigasi yang terlihat. Lalu, kemana Rizaldi? (*)