TOPIKINDONESIA.ID – Sore itu, Senin 19 Januari 2026, lorong Kantor Gubernur Lampung terasa lebih teduh dari biasanya. Udara Bandar Lampung masih menyimpan sisa dingin pasca hujan, tetapi langkah Rahmat Mirzani Djausal terlihat ringan. Senyum kecil mengembang di wajahnya usai menunaikan salat zuhur.
Mirza—begitu ia akrab disapa—tak berjalan sendirian. Di belakangnya, Kepala Bagian Protokol Indra berpapasan dengan kami, para wartawan yang tergabung dalam Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP).
“Jam dua, ya,” ucapnya singkat, nyaris berbisik.
Janji itu ditepati. Tepat pukul 14.00 WIB, ajudan mempersilakan kami masuk. Ruangan Gubernur Lampung terbuka, sederhana namun rapi—ruang yang belakangan kami ketahui lebih sering menjadi ruang diskusi serius ketimbang sekadar tempat menerima tamu seremonial.
Tak ada basa-basi panjang. Tak ada jarak formal. Mirza menyambut dengan gestur santai, seolah pertemuan ini bukan antara kepala daerah dan wartawan, melainkan obrolan lama yang tertunda.
Kami datang dengan satu tujuan: mendengar langsung, sejauh apa Lampung dibawa melangkah hampir setahun sejak Mirza dilantik Februari 2025. Namun kami tak menyangka, yang kami dapatkan bukan sekadar jawaban, melainkan pelajaran.
Baru beberapa kalimat pengantar dari Ketua IJP Abung Mamasa, Mirza langsung mengambil alih suasana. Bicaranya pelan, terukur, namun berisi.
“Kalau mau membangun daerah, kita harus jujur dulu membaca masalahnya. Dari mana asalnya, kenapa bisa muncul,” katanya.
Ia berhenti sejenak, lalu memberi analogi yang membumi.
“Provinsi itu seperti tubuh manusia. Kalau asupan baik dan aliran darah lancar, semua organ ikut sehat. Tapi kalau satu saja bermasalah, dampaknya ke mana-mana. Pemerintah tugasnya membenahi sirkulasinya.”
Tak puas hanya berbicara, Mirza berdiri. Spidol putih diambil, langkahnya menuju white board di sisi ruangan. Seketika, suasana berubah. Kami tak lagi merasa sedang wawancara, melainkan mengikuti kuliah umum seorang dosen yang paham betul apa yang ia ajarkan.
Struktur APBD digambar. Dari sumber pendapatan hingga arah belanja. Angka-angka mengalir deras, sebagian besar tanpa melihat catatan. Ia menyebut persentase, menyilangkannya dengan kewenangan, lalu menarik garis ke dampaknya bagi masyarakat.
“APBD itu bukan sekadar angka. Ia alat. Kalau salah pakai, pembangunan salah arah,” ujarnya sambil terus menulis.
Di titik ini, kesan “omon-omon” runtuh sepenuhnya. Ini bukan pidato politik. Ini teknokrasi yang dijelaskan dengan bahasa yang bisa dicerna.
Paparan berlanjut ke PDRB. Mirza menyebut komoditas unggulan Lampung satu per satu—pertanian, perkebunan, hingga kontribusi tenaga kerja. Ia hafal persentase pelaku, sebaran wilayah, bahkan potensi nilai tambah jika dilakukan hilirisasi.
Sesekali ia menoleh ke Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Dr. Marindo Kurniawan, Kepala Bappeda Anang Risgiyanto, dan Kepala Bapenda Slamet Riyadi yang duduk bersama kami. Bukan untuk bertanya karena ragu, melainkan memastikan satu angka pun tak meleset.
“Nol koma itu menentukan nasib orang,” katanya ringan, tapi maknanya dalam.
Kami bahkan ikut diajak menghitung potensi pendapatan petani. Angka di papan tulis bukan sekadar statistik—ia diterjemahkan menjadi rupiah di dapur rakyat.
Waktu berjalan tanpa terasa. Hingga azan Asar menggema dari kejauhan. Kami saling pandang, mengira pertemuan akan diakhiri. Ternyata tidak.
“Kita salat dulu. Habis itu lanjut,” ujar Mirza.
Usai salat, pembahasan beralih ke Desaku Maju. Program yang, menurut Mirza, dirancang bukan sekadar untuk cantik di dokumen perencanaan.
Di dalamnya ada vokasi tenaga kerja yang benar-benar menyerap lapangan kerja. Ada hilirisasi agar desa tak hanya menjual bahan mentah. Ada pupuk cair organik yang sudah diuji, bukan sekadar wacana.
“Saya ingin desa punya martabat ekonomi,” katanya lirih.
Hampir tiga jam kami berada di ruangan itu. Tak ada satu menit pun terasa kosong. Semua berisi. Semua bernapas.
Saat pertemuan berakhir, senja mulai turun di Bandar Lampung. Kami keluar ruangan dengan kepala penuh angka, tetapi juga hati yang hangat—karena di balik spidol dan data, ada niat tulus membaca masa depan daerah dengan sungguh-sungguh.
Jika gagasan-gagasan itu dijalankan konsisten, Lampung Maju bukan sekadar slogan. Ia sedang disiapkan, perlahan namun pasti.
Tabik. (***)












