Saat Doa dari Berbagai Negeri Bertemu di Langit Lampung

2,169 views
Oplus_131072

ADA momen ketika bumi seperti mendongak ke langit. Ketika jutaan langkah dari berbagai negeri diarahkan ke satu titik, dan ribuan bahkan jutaan lidah melantunkan ayat yang sama. Itulah yang akan terjadi pada 28–30 November di Kota Baru Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung: sebuah Tabligh Akbar. Pelaksanaan Ijtima Ulama Dunia 2025 “Indonesia Berdoa” yang disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah, bukan hanya karena jumlah manusia yang hadir, tetapi karena luasnya hati yang datang.

Jamaah tidak hanya mengalir dari seluruh penjuru Indonesia — dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara hingga Papua. Mereka juga datang dari negara tetangga dan sahabat: Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, hingga Timur Tengah dan Afrika. Perbedaan bahasa tidak menjadi penghalang, sebab bahasa iman adalah satu.

Majelis ini seakan menghidupkan kembali pesan Al-Qur’an:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
— QS. Al-Hujurat: 10

Di zaman ketika dunia dipenuhi kegelisahan dan fitnah, berkumpulnya umat dalam jumlah besar bukanlah sekadar seremoni; ia adalah tanda bahwa masih banyak hati yang merindu kepada Allah, merindu pada suasana majelis ilmu dan zikir yang menenangkan.

Lampung diberi amanah besar. Dalam tiga hari itu, provinsi ini akan menjadi tempat jatuhnya ribuan doa, tempat mengalirnya energi spiritual dari berbagai bangsa. Sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab. Pemerintah daerah, ulama, dan panitia memikul beban yang tidak kecil: memastikan keamanan, kelancaran, dan kekhusyukan tetap terjaga.

Namun di balik keramaian itu, ada pesan lembut yang sering terlewat:
Bahwa umat ini sebenarnya kuat. Sangat kuat.
Selama hadirnya majelis-majelis seperti ini, selama bibir-bibir masih menyebut nama Allah, selama hati-hati masih tunduk kepada-Nya, maka umat ini tidak akan pernah benar-benar goyah.

Ketika jutaan orang membasahi bumi Lampung dengan doa, kita berharap bumi ini menjadi saksi.
Ketika ratusan ribu tangan diangkat ke langit pada waktu yang sama, kita berharap langit pun terbelah untuk menurunkan rahmat.

Dan ketika jamaah dari berbagai negeri pulang membawa kesan yang lembut dari Lampung, kita berharap mereka juga pulang membawa doa-doa baik untuk Indonesia.

Tiga hari kedepan, Tabligh Akbar ini akan berakhir. Tenda-tenda akan dibongkar, panggung akan dibersihkan, jalanan kembali sepi. Tetapi jejak spiritualnya tidak boleh hilang. Kita harus melanjutkan ruh itu dalam kehidupan sehari-hari: saling mendoakan, saling menguatkan, saling menjaga ukhuwah.

Karena persatuan umat bukan dibangun pada pertemuan besar saja, tetapi pada keikhlasan hati setelah pertemuan itu selesai.

Semoga Lampung menjadi tempat turunnya rahmat dan tempat terkabulnya doa-doa panjang yang dibawa dari berbagai negeri. Mewujudkan Lampung Maju, Indonesia Emas 2045.(***)