BKKBN: Bonus Demografi Kunci Menuju Indonesia Emas 2045

327 views
Oplus_131072

TOPIKINDONESIA.ID – Bonus demografi hanya datang sekali, dan menjadi penentu apakah Indonesia bisa melesat menuju visi Indonesia Emas 2045 atau justru terjebak dalam beban populasi.

Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN, Prof. Budi Setiyono, menyebut fase emas ini lahir dari 55 tahun program KB (Keluarga Berencana), dengan lebih dari 70 persen penduduk kini berada di usia produktif.

“Kesempatan ini hanya berlangsung 20–30 tahun dan diperkirakan berakhir 2045. Setelah itu kita akan menghadapi aging population atau lonjakan jumlah lansia,” ujarnya saat berdiskusi bersama awak media, di Bandar Lampung, Kamis (28/8/2025) sore.

Bonus atau Beban

Prof. Budi menegaskan, bonus demografi hanya akan menguntungkan bila mayoritas penduduk usia produktif benar-benar bekerja dan berkontribusi.

“Kalau produktif, negara akan punya surplus untuk investasi pembangunan. Tapi kalau tidak, justru menjadi beban—satu orang bisa ‘menggendong’ lima sampai sepuluh orang lain,” jelasnya.

Cegah Stunting, Bangun SDM

Karena itu, BKKBN menaruh fokus pada pembangunan kualitas SDM sejak dini. Program pencegahan stunting melalui 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi prioritas utama.

Selain program induk Bangga Kencana dan Generasi Berencana (Genre), BKKBN juga meluncurkan sejumlah terobosan cepat seperti:

GENTing (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting);

GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia), mendorong ayah lebih aktif dalam pengasuhan;

TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak), yakni daycare dengan standar kompetensi pengasuh.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung Soetriningsih (kiri) didampingi Sekretaris Ni Gusti Putu Meiridha (kanan) saat berdiskusi bersama awak media, di Bandar Lampung, Kamis (28/8/2025) sore. Foto: Taufik Rohman

“Untuk memanfaatkan bonus demografi, generasi kita tidak boleh stunting, wajib belajar 12 tahun, dan punya keterampilan bersertifikat,” tegas Prof. Budi Setiyono.

Kolaborasi di Daerah

Kepala BKKBN Provinsi Lampung, Soetriningsih, menambahkan bahwa BKKBN melengkapi peran dinas kesehatan.

“Kalau dinas kesehatan mendata anak stunting, BKKBN fokus pada keluarga berisiko stunting,” jelasnya.

Ia menegaskan, investasi SDM adalah fondasi Indonesia Emas 2045. “Semua program, dari pencegahan stunting hingga pembinaan keluarga, adalah jalan agar generasi muda siap jadi motor penggerak bangsa,” ujarnya.(*)