Mei, Kopi, dan Api yang Tak Padam

637 views

MALAM merambat pelan di sudut kota yang mulai diam. Jam dinding tua di ruang tamu berdetak pelan, seirama dengan detak jantung Bayu yang menatap kosong ke langit gelap dari beranda rumahnya. Di tangannya, secangkir kopi hitam mengepulkan uap tipis. Di sebelahnya, sebungkus sigaret Surya terbuka setengah, isinya tinggal beberapa batang yang ia hisap hanya saat pikirannya mulai terlalu bising untuk ditenangkan dengan kata-kata.

Sudah hampir jam dua dini hari. Tapi kantuk tak juga datang. Mungkin bukan karena kopi atau rokok. Mungkin karena pikirannya yang terlalu sibuk menimbang masa depan.

Mei sudah di pertengahan. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, Bayu selalu percaya ada sesuatu yang istimewa dengan bulan ini. Ia menamainya “bulan janji.” Janji pada diri sendiri—yang kadang terwujud, kadang hanya jadi catatan di halaman belakang buku kerja.

Namun tahun ini berbeda.

Perusahaan yang ia bangun dari nol, dengan modal pas-pasan dan tekad yang keras kepala, mulai menampakkan hasilnya. Beberapa klien besar datang. Tim makin solid. Ruang kerja kecil yang dulu hanya berisi meja bekas dan laptop tua kini sudah penuh semangat muda yang tumbuh dari ide-ide liar tapi terarah.

Bayu mengisap rokoknya perlahan. Asapnya melayang, menari dalam cahaya redup lampu beranda. Ia menatap kosong, tapi di balik itu pikirannya penuh: ia ingin mengembangkan media yang ia bangun jadi lebih dari sekadar bisnis. Ia ingin jadi suara. Suara untuk yang tak terdengar. Untuk cerita-cerita dari desa, dari pinggir kota, dari ruang-ruang sempit yang tak pernah diliput berita besar.

“Aku harus bisa,” gumamnya.

Di bawah langit Mei, Bayu menulis ulang mimpinya—bukan di kertas, tapi di dalam kepalanya yang kini dipenuhi strategi. Ia ingin meluncurkan program baru, merekrut lebih banyak penulis muda, membuka kanal yang bisa menjangkau lebih banyak orang. Ia tahu jalannya masih panjang, tapi untuk pertama kalinya ia merasa: ini bukan mimpi kosong.

Kopi di tangannya sudah dingin. Tapi semangatnya tidak. Justru makin panas.

Rokok kedua ia nyalakan. Bukan karena lelah, tapi karena malam ini ia merasa ada sesuatu yang harus disyukuri. Ia tak lagi duduk karena menyesali masa lalu, tapi karena sedang merancang masa depan. Di tangannya yang menggenggam korek api, ada bara yang tak pernah padam: keyakinan.

Bayu tersenyum tipis.

“Mei ini, aku akan menepati janji,” ucapnya pelan, seolah pada dirinya sendiri, atau pada malam yang diam-diam mencatat setiap niat baik manusia yang sungguh-sungguh.(***)

Ngopi Pai…. Sunyi yang sepi!!