TOPIKINDONESIA.ID – Hujan deras yang mengguyur sejak sore hingga malam hari, Selasa (14/4/2026), melumpuhkan hampir seluruh wilayah Kota Bandar Lampung. Banjir besar terjadi di banyak titik, membuat jalan-jalan utama berubah menjadi lautan air dan aktivitas warga lumpuh total.
Jeritan minta tolong warga pun viral di media sosial. Dengan suara bergetar dan penuh harap, seorang ibu memanggil Walikota Eva Dwiana dengan sebutan khas, “Bunda, tolong Bunda… banjir.” Tangis dan kepanikan tergambar jelas dari warga yang terjebak di dalam rumah yang mulai terendam air.
Banjir kali ini disebut lebih parah dari biasanya. Jika hujan dua jam saja sudah menyebabkan genangan, hujan lebih dari lima jam membuat dampaknya meluas hampir ke seluruh kecamatan. Sungai-sungai meluap, membawa air masuk ke permukiman dan fasilitas umum.

Sejumlah titik terdampak parah di antaranya pertigaan depan RSUD Abdul Moeloek, parkiran RS Urip, basement Chandra Tanjungkarang, hingga Jalan Kartini depan Hotel Horizon. Di wilayah Way Halim, Sepang Jaya, hingga Sukarame, air merendam rumah warga dan bahkan merusak fasilitas sekolah seperti buku-buku perpustakaan SDN di Durian Payung.
Di Pahoman, situasi sempat mencekam ketika petir menyambar pohon dan warung di depan Kantor Pos. Seorang warga bahkan nyaris terseret arus sebelum akhirnya berhasil diselamatkan.
Sementara itu, kemacetan panjang tak terhindarkan di sejumlah ruas seperti by pass bawah flyover, Kalibalok, hingga Jalan Endro Suratmin.
Petugas BPBD telah dikerahkan untuk melakukan penyedotan air di beberapa lokasi, namun luasnya wilayah terdampak membuat penanganan belum maksimal.
Walikota Eva Dwiana turun langsung meninjau lokasi banjir. Ia menyebut sejumlah solusi jangka pendek seperti peninggian badan jalan dan pemasangan box culvert di titik rawan. Namun, ia menegaskan bahwa persoalan banjir ini juga dipengaruhi kiriman air dari wilayah sekitar.
Koordinasi pun dilakukan dengan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal serta pemerintah daerah di Pesawaran dan Lampung Selatan untuk mencari solusi bersama, termasuk pembangunan embung dan perbaikan aliran sungai oleh BBWS Mesuji–Sekampung.
Di tengah kondisi darurat ini, pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan yang dapat memperparah penyumbatan drainase.
Banjir ini bukan sekadar bencana musiman—ia menjadi pengingat bahwa kota ini sedang butuh pembenahan serius. Dan di tengah derasnya air yang menggenang, satu suara warga paling menggema: “Bunda, tolong kami…”.(*)












