Ketua MUI Lampung Imbau Pemerintah Lebih Tegas Tindak Terduga Teroris

TOPIKINDONESIA.ID – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung Prof Moh Mukri mengimbau pemerintah lebih tegas dan mendukung sepenuhnya penangkapan terduga teroris.

Pasalnya, banyak kalangan khawarij, islam garis keras yang sangat tekstual dalam memahami agama.

Kelompok wahabi salafi ini yang sering jadi pemicu lahirnya gerakan-gerakan terorisme.

Direktorat Bina Potensi Basarnas dan Komisi V DPR RI Gelar Bimtek Tehnik Pertolongan Pertama

Jurnalis Polda Lampung Refreshing di Pantai Mutun

Densus 88 Polri Kembali Sita Ratusan Kotak Amal LAZ BM ABA di Pringsewu

“Awalnya sekadar menyalahkan amaliah orang lain, lalu menganggap bidah, sesat, dan kemudian berani mengkafirkan liyan,” ujar Prof Mukri, pada Sabtu (6/11/2021).

Seiring penangkapan beberapa orang di Lampung oleh Densus 88 Mabes Polri, semua disebut terkait dengan kelompok pengajian salafi wahabi.

“Pemahaman yang salah, jangankan sekarang, periode zaman nabi Muhammad SAW saja, ada orang khawarij yang berani menyatakan pada Rosulullah SAW agar berbuat adil terkait pembagian ghanimah,” terangnya.

Mereka, lanjut Rektor UIN Raden Intan Lampung itu, banyak memahami agama secara keliru. Bukan mempermudah dan memberi kabar gembira, justru menyulitkan dan membuat ummat banyak yang lari dari agamanya.

“Lahuma sirro walatuasir, wabasira walatunasira, mudahkanlah setiap urusan dan janganlah mempersulit, dan berilah kabar gembira,” ungkap Mukri mengutip hadist Nabi Muhammad SAW.

Penangkapan sejumlah terduga teroris, jelas dia, terhubung dengan orang-orang yang berpaham di luar NU dan Muhammadiyah.

“Mereka banyak yang meninggalkan asbabul nujul ayat, jadi memahami agama sangat tekstual,” jelasnya.

Presiden Jokowi Tiba di Tanah Air

Presiden Jokowi Kunjungi Dubai Expo 2020

MUI Lampung sendiri, menurut dia, bakal lebih intensif membentengi pelajaran agama islam yang diajarkan pada anak-anak. Akan tetapi, negara juga harus hadir. Jangan sampai hanya menjadikan MUI Lampung sebagai pemadam kebakaran saja.

“Begitu juga dengan para orang tua, harus lebih selektif mencarikan guru agama, jangan sembarangan,” pungkas nya,

Bukan hanya menyasar kelompok pengajian salafi, sejumlah terduga terorisme juga mulai masuk ke dalam pondok pesantren. Hal itu terkuak setelah aparat anti-teror Densus 88 Polri menangkap beberapa pengajar di Ponpes Al Muhsin, Kota Metro.

Pondok Al Muhsin, merupakan jejaring dengan Ponpes Ngruki, Solo yang sudah dianggap jadi markas JI dan MMI. Begitu juga di Kabupaten Pesawaran, ada Ponpes Nurul Iman, selain itu disebut juga Ponpes Ulul Albab dan Babul Hikmah.(Dani/TI)

Loading