Suami Bertugas di Perbatasan, Istri Prajurit TNI Yonif 143 Gaungkan Semangat Kartini Masa Kini Dengan Membuat Tapis

25 views

Topikindonesia.id – Di tengah penugasan prajurit Batalyon Infanteri 143/Tri Wira Eka Jaya yang menjalankan Satgas Pamtas Statis di wilayah Papua, para istri prajurit di Lampung memilih tetap bergerak dan produktif.

Melalui kain tapis khas Lampung, mereka menggaungkan semangat Kartini masa kini dengan menghidupkan kegiatan UMKM sekaligus melestarikan budaya daerah.

Para istri prajurit yang tergabung dalam Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXXIV Yonif 143 memanfaatkan waktu di asrama dengan belajar dan mengembangkan kerajinan tapis. Benang emas disulam membentuk motif khas Lampung seperti gajah, kapal, dan siger.

Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXXIV Yonif 143, Nyonya Novla—istri Letkol Infanteri Setiawan Marbutomo selaku Danyonif 143—mengatakan kegiatan tersebut lahir dari inisiatif para istri prajurit yang tengah ditinggal bertugas.

“Saat ini karena kebetulan kami sedang ditinggal penugasan oleh para suami-suami kami, kami berusaha untuk membuat aktivitas positif bagi seluruh istri prajurit, salah satunya dengan belajar menapis,” ujar Novla.

Ia menjelaskan, kegiatan menapis didukung oleh salah satu anggota Persit yang memiliki keahlian khusus di bidang tersebut.

“Kebetulan sekali pada kesempatan kali ini kami memiliki satu orang istri prajurit yang memiliki keahlian menapis, sehingga kami meminta bantuan beliau untuk bisa membantu rekan-rekan yang lainnya belajar menapis,” katanya.

Selain tapis, para anggota Persit juga mengembangkan kerajinan lain seperti makrame serta memanfaatkan sisa kain tapis menjadi barang serbaguna.

“Ada makrame di sini, kemudian juga kita belajar memanfaatkan sisa-sisa kain tapis untuk bisa diolah kembali menjadi barang-barang yang serbaguna, contohnya seperti tempat tisu, kalung, bros-bros yang bernuansa tapis,” ujar Novla.

Menurut dia, pemilihan tapis bukan tanpa alasan.

“Tentu saja karena kain tapis adalah kain khas daerah Lampung, sehingga kita berupaya untuk memperkenalkan kain tapis kepada khalayak ramai bahwasanya kain tapis itu kain wastra di mana kita harus bisa melestarikan dan memperkenalkan pada anak cucu kita nanti,” ucapnya.

BACA JUGA:  Iskardo: Lampung Zero Accident Untuk Kedua Paslon Pilgub, Serta Legacy Bawaslu Berintegritas

Produk-produk tersebut biasanya dipasarkan melalui bazar yang diselenggarakan berbagai pihak, serta dimanfaatkan saat ada kunjungan pejabat untuk mempromosikan hasil karya anggota Persit.

Sementara itu, Asri-istri Kopda Angga Dwi Ferdian mengaku, telah menekuni usaha di Lampung selama kurang lebih tiga tahun. Ia juga aktif mengajarkan keterampilan tersebut kepada anggota Persit lainnya.

“Kurang lebih sudah tiga tahun untuk menekuni usaha tapis Lampung ini. Kemudian di Persit sendiri, ada kegiatan seperti mengajarkan pada ibu-ibu yang lainnya cara menapis supaya ada kegiatan yang positif di dalam asrama ini,” kata Asri.

Ia memilih menapis karena fleksibel dan bisa dilakukan di sela aktivitas rumah tangga.

“Saya memilih tapis Lampung karena menapis, menyulam itu adalah kegiatan yang sangat fleksibel, jadi bisa saya lakukan di saat waktu-waktu yang senggang. Selain itu juga tapis itu menambah ekonomi untuk membantu perekonomian keluarga saya,” ujarnya.

Menurut Asri, tidak ada kesulitan berarti dalam menjalankan usaha tersebut meski harus mengurus keluarga saat suami bertugas.

“Untuk kesulitannya sendiri tidak ada ya, karena kegiatan menapis itu adalah kegiatan fleksibel. Jadi bisa saya kerjakan di saat anak sekolah, setelah saya pulang kerja, dan bisa saya juga lakukan ketika malam hari, ketika nonton TV,” tuturnya.

Jenis produk yang diproduksi tidak hanya berupa kain, tetapi juga batik yang ditapis tanpa mengurangi unsur khas Lampung.

“Yang lebih diproduksi yaitu kain. Jadi batik yang ditapis, kemudian bisa digunakan juga untuk fashion seperti baju, outer, rok, jadi bisa digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang formal juga,” kata dia.

Untuk pemasaran, Asri mengandalkan media sosial dan promosi dari mulut ke mulut.

“Biasanya dijual di Lampung dan juga luar Lampung. Penjualannya lebih ke sosmed dan dari mulut ke mulut. Paling jauh pernah sampai Jakarta dan sampai Solo,” ujarnya.

BACA JUGA:  Hasil Musprov Kadin Lampung Diduga Cacat Hukum

Di saat para prajurit Yonif 143 Tri Wira Eka Jaya menjaga kedaulatan negara di perbatasan, para istri prajurit berkontribusi dari rumah. Melalui tapis, mereka tak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat ekonomi keluarga, sebuah wujud nyata semangat Kartini masa kini.(*)