Muhammad Yusuf dan “Penyampai Khasa”: Jejak Wartawan, Musisi, dan Karya yang Tetap Hidup

32 views

TOPIKINDONESIA.ID – Kabar duka menyelimuti dunia jurnalistik dan musisi Lampung. Muhammad Yusuf, sosok yang dikenal sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sekaligus musisi asal Lampung, telah berpulang.

Muhammad Yusuf Ramadhan atau biasa disapa Putra, meninggal dunia pada 13 September 2026 di RS Abdul Moeloek Lampung.

Kepergiannya meninggalkan kenangan bagi keluarga, rekan-rekan sejawat, insan pers, serta para penikmat musik yang mengenal karya-karyanya.

Yusuf bukan hanya menjalani kehidupan sebagai seorang wartawan. Di balik aktivitas jurnalistiknya, ia juga memiliki kecintaan yang kuat terhadap musik. Dua dunia tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya—jurnalistik sebagai ruang menyampaikan informasi, sementara musik menjadi ruang untuk menuangkan rasa dan kreativitas.

Yusuf bergabung dengan organisasi PWI pada 2020. Namun perjalanan bermusiknya telah dimulai lebih dahulu.

Pada 2017, Yusuf telah berkarya melalui musik. Salah satu karya yang kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan kreatifnya adalah lagu “Penyampai Khasa.”

Menariknya, karya tersebut justru menemukan momentum besar bertahun-tahun setelah diciptakan. Pada 2026, lagu “Penyampai Khasa” kembali mendapat perhatian luas hingga populer dan viral.

Di tengah perkembangan media sosial dan platform digital, sebuah karya lama dapat menemukan pendengar baru. Begitu pula dengan “Penyampai Khasa”. Lagu tersebut menjadi salah satu peninggalan karya yang membuat nama Muhammad Yusuf tetap diperbincangkan bahkan ketika sang pencipta telah tiada.

Bagi dunia jurnalistik Lampung, Yusuf meninggalkan jejak sebagai bagian dari keluarga besar PWI. Bagi dunia musik, ia meninggalkan karya yang memiliki perjalanan tersendiri.

Kepergiannya pada 13 September 2026 menjadi kehilangan. Namun karya memiliki cara sendiri untuk bertahan.

Nama seseorang mungkin berhenti hadir secara fisik, tetapi gagasan, tulisan, nada, dan lagu yang pernah diciptakannya dapat terus hidup di tengah masyarakat.

“Penyampai Khasa” kini bukan sekadar sebuah lagu. Di tengah kabar kepergian Muhammad Yusuf, karya tersebut menjadi bagian dari kenangan tentang seorang wartawan sekaligus musisi Lampung yang pernah mencurahkan kreativitasnya melalui musik.

Muhammad Yusuf telah berpulang. Tetapi cerita tentang perjalanan hidup dan karyanya masih dapat terus disampaikan. Selamat jalan Adik, Sahabat, dan Sodara, semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah Azza Wa Jalla.

Sebab, bagi seorang pencipta, salah satu bentuk keabadian bukan hanya tentang panjangnya usia, melainkan tentang karya yang tetap didengar setelah dirinya tiada. Selamat jalan Adik, Sahabat dan Sodara Muhammad Yusuf.(***)