TOPIKINDONESIA.ID – Riuh gelombang di pesisir Pantai Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, menjadi saksi harmoni antara tradisi leluhur dan semangat kepemudaan.
Ribuan masyarakat, khususnya warga dan nelayan pesisir, larut dalam gelaran adat Ruwat Laut, Sabtu (22/8). Tradisi tahunan tersebut menjadi wujud syukur atas limpahan rezeki dari laut sekaligus momentum mempererat tali persaudaraan masyarakat pesisir.
Ketua Karang Taruna Provinsi Lampung, Wahrul Fauzi Silalahi, menilai Ruwat Laut bukan sekadar ritual adat, tetapi juga menjadi sarana penting untuk memperkuat jati diri generasi muda pesisir di tengah derasnya arus modernisasi.
“Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi nelayan dan generasi muda untuk merawat silaturahmi sekaligus melestarikan adat pesisir,” ujar Wahrul saat menghadiri kegiatan tersebut.
Menurutnya, kehadiran Karang Taruna dalam kegiatan itu merupakan bentuk komitmen pemuda untuk ikut menjaga dan melestarikan nilai-nilai kebudayaan lokal agar tetap hidup dan tidak tergerus zaman.
“Dari sini, spirit gotong royong dan kepedulian terhadap kesejahteraan nelayan terus kita pupuk,” tegasnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Karang Taruna Kabupaten Lampung Selatan Sahirul Hidayat, Kepala Desa Ketapang Hamsin, serta Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lampung Selatan Ariyantoni.
Sejak pagi, ratusan warga bersama jajaran pengurus Karang Taruna dari berbagai tingkatan memadati kawasan pantai. Suasana penuh kebersamaan tampak mewarnai seluruh rangkaian kegiatan.
Ketua Karang Taruna Lampung Selatan, Sahirul Hidayat, mengatakan pemuda daerah harus mengambil peran aktif dalam menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Karang Taruna hadir untuk memastikan tradisi luhur ini terus bernapas. Ruwat Laut mengajarkan kita dua hal utama: senantiasa bersyukur kepada Tuhan dan menjaga keseimbangan alam,” kata Sahirul.
Sementara itu, Kepala Desa Ketapang, Hamsin, menyampaikan apresiasi terhadap sinergi para pemuda dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kelestarian tradisi desa.
“Pemerintah desa mendukung penuh upaya pelestarian ini. Harapan kita bersama, laut Ketapang selalu melimpahkan rezeki, para nelayan diberikan keselamatan saat melaut, dan keharmonisan warga tetap terjaga,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari sektor perikanan. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lampung Selatan, Ariyantoni, menilai terdapat pesan ekologis yang kuat dalam tradisi Ruwat Laut.
“Ritual Ruwat Laut ini selaras dengan misi pelestarian ekosistem perairan. Tradisi ini menjadi pengingat moral bagi para nelayan agar tetap menerapkan pola penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab demi keberlanjutan masa depan,” tuturnya.
Prosesi Ruwat Laut diawali dengan doa bersama untuk keselamatan dan pemotongan pita. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan prosesi utama berupa pelarungan satu kepala kerbau dan tabur bunga di lepas pantai Ketapang.
Suasana kebersamaan semakin terasa hingga sore hari melalui tradisi makan bersama warga yang dirangkai dengan pesta rakyat serta pentas seni budaya lokal.
Bagi masyarakat Ketapang, Ruwat Laut bukan hanya ritual tahunan, melainkan ruang bersama untuk merawat tradisi, memperkuat gotong royong, sekaligus menanamkan kesadaran menjaga laut sebagai sumber kehidupan bagi generasi kini dan mendatang. (*)












