Surat kepada Ustadz Felix Siauw

1,717 views

Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penerasi Jogja Sumatera)

“Surga yang engkau janjikan, neraka yang kau berikan.” “Manis yang engkau janjikan, pahit yang aku rasakan.”

Bernada dangdut klasik terdengar pada pagi Jum’at itu, menyadarkanku akan suatu kondisi terlampau jauh. Terasa berada di masa lalu, sebab kondisi sudah banyak berubah sebagaimana dulu banyak teman, harta bahkan keluarga, namun kini hanya ada sosok berpesona religius.

Terlampau suci rasanya jika berani bicara agama, namun kenyataannya realita mengarah ke sana. Namun musik itu saat mengusik ketenanganku. Ada apa denganku? Apa benar pernah bermimpi akan berada pada kondisi ini? Tidak, sekali pun tidak pernah terbayang dalam keinginan akan menjadi seperti sekarang ini, menjadi religi dan penyendiri bahkan dalam serba keterbatasan harta; hutang dimana-mana…

Sebentar, pikir ini benar-benar sangat mengganggu. Sampai-sampai terbayang berbagai hadits-hadits tentang ancaman bagi para pengkhotbah yang buruk (“suu'”) berdasar hadits tentang ahli neraka, ciri munafik, dan rahasia mereka sebagai orang-orang yang berilmu, namun mereka menyampaikannya.

Tidak hendak membendung usaha mengarah kepada kebaikan, orang-orang memang banyak sedang melakukannya; hijrah, menjelma fenomena. Apakah ini suatu kebenaran sesungguhnya atau semata fenomena, dalam istilah Filsafat memiliki makna keterpisahan antara ketampakan dengan “noumena” atau kesejatian. “Wait!” Itu artinya ada jarak di sana. “Stop!” “Filsafat adalah barang haram sekarang!” Bisiknya.

Tidak ingin larut, “scrolling” HP Android untuk mencari info sekedah mencari-cari kebaikan di sana, atau sekedar mengalihkan perhatian nampaknya menjadi pilihan terbaik. Membuka aplikasi video YouTube, sebab lagi terpasang paket internet, di antara banyak pilihan, satu yang muncul di timeline juga otomatis diputar tanpa perintah adalah video dengan judul menarik, “Ustad Felix Siauw Bikin Transg3nder Taubat.

Video tersebut mengagumkan. Materinya pun membuat terkesima sampai terbayang-bayang hingga lama dan cukup mengambil perhatian. Di antara panjang lebar dialog di dalamnya, terdapat materi, meski melenceng dari judul sekaligus teks dalam “tumbail” acara Press Conference: Klarifikasi yang diunduh oleh Chanel Reyben Entertainment pada 25 Maret 2025 tentang hal yang paling diinginkan seorang wanita dalam hidupnya yang setelah berusaha dijawab oleh tamu yang ada hingga beberapa kali salah, si Ustadz mengambil dalil dari kisah istri Fir’aun dengan mengatakan hal tersebut adalah rumah.

Koreksi terhadap pernyataan Asiah sebagai wanita dengan keinginan tertinggi adalah memiliki rumah (di surga) patut diajukan kepada Felix Siauw dalam menyikapi podcast tersebut dengan mengkomparasikannya dengan hadits Rasul saat mengunjungi langit pada peristiwa Mi’raj yang bertanya akan sebuah istana di sana. Dijelaskan Jibril yang mengiringi perjalanan suci beliau kala itu bahwa itu adalah milik Umar? Ya, Umar bin Khattab sahabat Rasul yang dikenal sebagai sosok gagah perkasa lagi tegas. Umar tidak segan menghunus pedang terhadap apa saja yang dianggap mengancam, ternyata menginginkan dan telah dipersiapkan di sana dengan sempurna bahkan berbentuk istana.

Catatan ini tentunya bukan suatu kritik agama namun lebih kepada usaha menggali kecerdasan kita bersama dalam beragama dan berkehidupan bersama khususnya dalam memahami dalil-dalil dan membentuk pemahaman terhadapnya untuk kemudian menyebarkan luaskannya yang bersifat massa. Selanjutnya, fenomena hijrah bukanlah “prank” atau “ngerjain” siapa siapa, namun harga untuk suatu kondisi untuk disikapi secara hati-hati.(***)