Modal Nekat, Mimpi Meloncat bagian 11

349 views

BAB 11: Yang Tak Terlihat

Rafi terbangun sebelum subuh, bukan karena alarm, tapi karena gelisah yang sulit dijelaskan. Di sampingnya, istrinya masih terlelap memeluk Dita. Ia duduk perlahan di tepi ranjang, memegangi kepalanya. Bukan sakit, bukan pusing. Tapi ada kekosongan yang tak kunjung terisi, seolah ada bagian dalam dirinya yang terus mengendur tanpa ia sadari.

Sudah berminggu-minggu perasaannya seperti ini. Di luar, Suara Desa tumbuh subur—kontributor bertambah, undangan dari berbagai kampus berdatangan. Tapi di rumah, ada jarak yang makin sulit dijangkau. Seperti ada pintu yang tertutup rapat, dan ia kehilangan kunci untuk membukanya.

Pagi itu, di meja makan hanya ada nasi goreng dingin dan secarik kertas kecil dengan tulisan tangan istrinya:

“Aku ke pasar dulu. Uang belanja kemarin sudah habis. Nanti kita bicara, ya.”

Rafi menatap kertas itu lama. Bukan kata-katanya yang menyakitkan, tapi nadanya—tenang, dingin, tanpa peluk.

Ia tahu, belakangan ini kebutuhan rumah tangga mulai terasa berat. Biaya Dita masuk sekolah, listrik, sembako yang naik, dan pemasukan dari Suara Desa yang masih tak menentu. Honor dari proyek media komunitas tidak sebanding dengan kerja keras yang mereka lakukan.

Istrinya pernah berkata pelan suatu malam, “Apa semua ini cukup buat kita terus seperti ini, Fi? Aku tahu kamu kerja keras. Tapi cukup nggak… buat hidup kita ke depan?”

Dan Rafi tak bisa menjawab.

Hari itu, ia kembali ke ladang kecil tempatnya dulu bermain layangan. Tanah itu masih luas, tapi ia kini lebih dewasa untuk tahu: luas tak selalu berarti lapang.

Ia menulis di buku catatannya:

Untuk Dinda, istriku… Aku tahu kamu lelah. Aku tahu kamu butuh rasa aman yang lebih dari sekadar janji. Maaf kalau mimpiku membawa kita ke jalan yang berat. Tapi aku janji, aku sedang mencari cara agar kita tidak hanya bertahan, tapi juga tenang.

Malamnya, saat ia pulang, Dita menyodorkan gambar. Di sana, ada rumah kecil, ada ibu, dan dirinya berdiri di luar rumah dengan tas punggung besar.

“Ini Ayah?” tanya Rafi.

“Iya. Ayah selalu pergi bawa tas,” jawab Dita sambil tertawa kecil.

Istrinya muncul dari dapur. Tak ada senyum. Tapi juga tak ada marah. Hanya ekspresi yang sulit ditebak—antara kecewa dan pasrah.

Rafi mendekat. “Besok, aku ketemu teman di kabupaten. Mau tawarkan kerja sama media. Kalau berhasil, bisa bantu keuangan rumah.”

Istrinya mengangguk. “Aku nggak minta kamu jadi orang kaya, Fi. Tapi aku butuh kamu hadir bukan cuma sebagai mimpi besar. Aku butuh kamu nyata, di sini. Sama-sama mikirin jalan keluarnya.”

Ucapan itu seperti cermin—tajam, tapi jujur. Rafi hanya bisa menunduk.

Malam itu, ia mematikan ponsel lebih awal. Ia duduk lama di ruang tamu, menatap kalender keluarga yang mulai jarang terisi catatan. Lalu ia menulis:

Kadang, perjuangan tak hanya soal didengar dunia. Tapi tentang bagaimana membuat rumah tetap menjadi tempat pulang. Dengan cinta, dengan cukup, dengan saling percaya.

…. Bersambung…. (ke bagian 12)….