BAB 3: Rantau dan Rasa Tak Layak
PAGI itu, Rafi berdiri di depan cermin kecil di kamar kostnya, menatap wajah lelah yang tercermin. Meski sudah mencoba tersenyum, matanya tetap terlihat kosong, seolah kehilangan arah. Kehidupan di kota ini ternyata jauh lebih keras dari yang ia bayangkan.
Setiap pagi, ia menekan rasa cemas dalam dadanya. Setelah mandi dengan air yang terasa dingin menusuk, ia berangkat ke kampus dengan berjalan kaki. Terkadang, ia harus nebeng motor kawan-kawannya ke kampus yang berkisar 2 Km.
Di kampus, ia merasa lebih terasing. Rekan-rekannya lebih sering membicarakan dunia yang jauh dari jangkauannya—restoran mewah, acara hiburan, gadget terbaru. Sementara itu, Rafi hanya bisa berdiam, mendengarkan, merasa seperti penonton di kehidupannya sendiri. Ada rasa malu yang sulit diungkapkan, malu akan pakaian usang yang selalu dikenakan, malu karena tak bisa membeli buku kuliah terbaru, malu karena ia merasa tak cukup layak berada di sana.
Malam itu, setelah berhari-hari kelelahan bekerja sebagai penjaga warnet, Rafi mendapat telepon dari rumah. Suara ibunya terdengar bergetar di ujung sana.
“Raf, Bapakmu sakit. Tapi kamu jangan pulang dulu. Kuliahmu lebih penting. Bapak masih bisa bertahan,” suara ibunya dipenuhi kecemasan.
Rafi terdiam. Hati kecilnya ingin sekali pulang, melihat ayah yang kini tak sekuat dulu. Tapi ia tahu, jika ia kembali, semua impian yang telah ia bangun di kota ini akan runtuh. Biaya pulang pun bukanlah hal yang mudah. Ongkos yang ia punya hanya cukup untuk bertahan satu minggu lagi di kost.
“Iya, Bu. Aku akan bertahan. Tolong jaga Bapak baik-baik,” jawab Rafi dengan suara yang hampir pecah. Ia berusaha menahan air mata yang hampir tumpah.
Ponsel itu ditutup, dan Rafi kembali ke kamarnya dengan langkah lesu. Malam itu, ia tidur dengan perut kosong, berbaring di atas kasur tipis yang sudah mulai keras. Tangisannya hanya bisa ia simpan dalam diam. Tak ada yang tahu betapa berat perasaannya.
Namun, keesokan harinya, Rafi bangkit. Ia tahu, hidupnya tak bisa berhenti.












