Modal Nekat, Mimpi Meloncat

485 views

BAB 1: Desa yang Tertinggal Waktu

Pagi itu, kabut masih menyelimuti perbukitan di ujung desa Pangkalan Jaya. Udara dingin menggigit tulang, tapi bagi Rafi, anak laki-laki berusia 12 tahun, hari telah dimulai sejak azan Subuh menggema dari surau kecil yang mulai lapuk. Ia merapikan timbangan dan kantong plastik berisi tempe-tempe buatan temennya.

“Cepat ya, Nak. Nanti angkot pagi bisa kelewat,” suara ibunya lembut, menyelipkan harap pada setiap kata.

Rafi mengangguk, menyambar jaket lusuh dan berjalan menembus kabut, menuju warung-warung yang sudah hafal dengan wajah dan senyumnya. Ia tak pernah malu, walau kadang dicibir anak-anak lain.

“Wah, si anak tempe lewat!” teriak seseorang dari ujung gang. Rafi menoleh sebentar, tersenyum kecil, lalu melanjutkan langkah.

Setiap rupiah yang ia dapat dari hasil jualan akan dikumpulkan untuk ongkos ke sekolah. Angkot ke kecamatan jaraknya sekitar tujuh belas kilometer. Jika tidak cukup, ia akan berjalan sebagian, atau bahkan seharian tidak masuk sekolah.

Ayahnya, Pak Yamin, adalah petani penggarap. Bukan pemilik tanah—hanya penggarap yang akan menerima bagian dari hasil panen, setelah dibagi dengan pemilik lahan dan pengepul. Ibu Rafi membuat gorengan dan mengemas sayuran untuk tambahan penghasilan. Dapur sempit rumah mereka sudah seperti pabrik mini, tempat ratusan bungkus sayuran dan berbagai macam gorengan.

“Sekolah itu penting, Nak. Jangan seperti Ibu. Dulu Ibu mau sekolah, sudah membuat daftar di salah satu sekolah SMP Negeri di dekat Kecamatan. Namun Tak jadi karena dibawa kakak ku merantau membuka lahan perkebunan kopi dan mengasuh anaknya,” begitu kata Ibunya suatu malam ketika mereka duduk di depan tungku, menghangatkan diri dari udara gunung.

Namun, di desa itu, mimpi sering kali terasa seperti barang mewah. Banyak yang menganggap sekolah tinggi hanya buang-buang waktu. Beberapa bahkan terang-terangan mengejek pilihan keluarga Rafi.

“Kuliah? Lha wong SMA aja belum tentu kerja. Nanti ngabis-ngabisin duit aja. Mending bantu Bapakmu di sawah!” celetuk Pak De Anwar, tetangga sebelah, saat mendengar rencana Rafi melanjutkan sekolah ke kota kelak.

Tapi Rafi diam saja. Ia tahu, jalan hidupnya bukan untuk dipahami semua orang.

Malam-malam di desa dipenuhi suara jangkrik dan gemerisik dedaunan. Di situlah Rafi menyalakan lampu minyak dan membuka buku-buku pinjaman dari sekolah. Ia tahu belajar dalam gelap tidak ideal, tapi itulah satu-satunya cahaya yang ia punya—secara harfiah maupun batiniah.

Dan di antara halaman-halaman buku itulah, perlahan tumbuh keyakinan: bahwa ia ditakdirkan untuk sesuatu yang lebih besar. Bukan demi kemewahan, tapi demi memberi makna pada setiap tempe yang ia jual, setiap langkah kaki yang menembus lumpur, dan setiap peluh, kata yang ditorehkan dalam diam.