BAB 2: Mimpi di Tengah Ladang
Sore itu, langit di atas desa Pangkalan Jaya tampak membara. Rafi duduk di teras rumahnya, menatap padi yang mulai menguning di sawah. Hawa panas dari ladang menyelinap masuk ke dalam tubuhnya, tapi pikirannya melayang jauh—ke kota, ke universitas yang selama ini hanya ada dalam mimpi.
“Raf, kamu serius mau kuliah?” suara ayahnya terdengar dari belakang, memecah keheningan.
Rafi menoleh. Pak Yamin sedang duduk di kursi kayu, memegang cangkir kopi sambil menatapnya penuh harap.
“Iya, Pak. Saya ingin kuliah, bisa jadi orang yang bisa bantu desa ini,” jawab Rafi, dengan keyakinan yang sulit dijelaskan, namun begitu nyata di dalam hatinya.
Pak Yamin menggeleng pelan. “Bapak ingin kamu sukses, Nak. Tapi biaya kuliah itu besar. Bapak dan Ibu hanya petani penggarap. Kadang kita pun tak tahu hari esok bisa makan apa.”
Rafi menggenggam tangan ayahnya, seolah ingin memberi kepastian bahwa ia tidak akan menyerah. “Saya tahu, Pak. Tapi kalau saya berhenti sekarang, hidup saya hanya akan terus begini. Saya ingin mengubah nasib.”
Ibu yang sejak tadi berdiri di dapur, datang mendekat. Wajahnya tertekan, tapi ia menyisipkan senyum di sudut bibirnya. “Kalau kamu benar-benar ingin, kami akan coba bantu semampunya. Tapi kamu harus tekun, Raf. Jangan lupa dari mana kamu berasal.”
Rafi mengangguk, menatap ibu yang sudah mulai menua meski usianya belum terlalu tua. Air matanya hampir tumpah, tetapi ia menahannya. Ia tahu, jika mimpinya itu tercapai, ini akan jadi jalan keluar untuk orang tuanya.
Namun, jalan itu tak semudah yang ia bayangkan. Meskipun ia berhasil masuk ke universitas negeri di kota, setiap hari adalah perjuangan. Setiap langkahnya terasa berat, seperti berjalan menanjak tanpa akhir. Begitu tiba di kota, ia langsung dihadapkan pada kenyataan pahit: ongkos hidup, tempat tinggal, dan biaya kuliah yang tidak sedikit. Uang yang ia kirimkan dari kampung hanya cukup untuk makan sebulan, sisanya harus ia atur dengan cermat.
Hari pertama kuliah, Rafi merasa dirinya terasing. Di antara mahasiswa lain yang berpakaian rapi dan berpenampilan modis, ia hanya mengenakan jaket bekas yang sudah lusuh, dengan tas yang selalu penuh buku bekas pinjaman. Setiap kali berinteraksi dengan teman sekelasnya, ada rasa canggung yang tak bisa dihindari. Mereka berbicara tentang restoran mewah dan tren terkini yang tak pernah ia tahu.
Namun, Rafi tidak mau kalah. Ia memutuskan untuk bekerja paruh waktu sebagai penjaga warnet, sebuah pekerjaan yang memberinya akses internet gratis dan sedikit uang saku tambahan. Setiap malam, selepas kuliah, ia akan berlari menuju warnet, membersihkan meja, dan menjaga pelanggan yang datang. Walaupun tubuhnya lelah, ia tidak peduli. Setiap malam ia meluangkan waktu untuk belajar, baik di warnet maupun di kostan yang sempit itu.
Suatu malam, ia menatap langit yang gelap dari jendela kamar kosnya, merasakan angin malam yang sejuk. Ada rasa yang campur aduk dalam dadanya—letih, cemas, dan juga penuh harapan. Di antara suara motor yang melintas dan hiruk-pikuk kota, ia mendengar suara ibunya yang mengingatkannya untuk terus berusaha. Ia bisa merasakan, meskipun jauh di sana, doa orang tuanya selalu menyertainya.
Tetapi, hari-hari itu tidak selalu indah. Uang untuk makan sering kali tidak cukup. Terkadang, Rafi hanya bisa bertahan dengan mie instan yang dibeli dengan uang receh. Di malam-malam yang sepi, ketika teman-temannya tertidur lelap, ia sering kali merenung, apakah jalan ini benar-benar untuknya. Ketika tubuhnya lelah dan pikirannya mulai ragu, ia ingat satu hal: ia tak bisa pulang, tak bisa kembali ke desa tanpa membawa harapan yang sudah ia ambil.
Bersambung…….












