TOPIKINDONESIA.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Provinsi Lampung menjadi perhatian anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Nessy Kalviya.
Nessy meminta seluruh pemangku kepentingan di Lampung meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah mitigasi menyusul tingginya jumlah titik panas serta terjadinya kebakaran di kawasan Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur.
Berdasarkan pemantauan BMKG Lampung pada Sabtu (22/8/2026) tercatat 111 titik panas tersebar di wilayah Lampung. Sebanyak 10 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah, 100 titik tingkat menengah dan satu titik tingkat tinggi.
Kabupaten Way Kanan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 27 titik.
Pada hari yang sama, kebakaran juga terjadi di kawasan Taman Nasional Way Kambas. Api dilaporkan mulai muncul sejak Jumat, 21 Agustus, dan hingga Sabtu masih dalam proses penanganan tim gabungan.
Kondisi medan yang sulit dijangkau kendaraan menjadi salah satu kendala pemadaman.
Kondisi tersebut dinilai menjadi peringatan bagi Lampung untuk tidak hanya fokus pada penanganan ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan sejak dini.
“Data ini harus menjadi alarm bagi kita semua. Jangan menunggu api membesar baru kita bergerak. Kalau sudah ada indikasi dan titik panas, langkah pencegahan harus segera diperkuat,” kata Nessy.
Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI, Nessy menilai penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan merupakan bagian penting dalam upaya penanggulangan bencana. Karena itu, koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, BNPB, TNI-Polri, pengelola kawasan hutan, dunia usaha dan masyarakat perlu terus diperkuat.
Ia juga meminta pemerintah daerah memastikan kesiapan personel, sarana prasarana serta mekanisme respons cepat di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan karhutla tinggi.
“Yang paling penting adalah kesiapan. Kita harus tahu daerah mana yang rawan, bagaimana aksesnya, siapa yang bergerak ketika ada kejadian, dan bagaimana koordinasinya. Jangan sampai ketika bencana terjadi kita baru mencari siapa yang harus bertindak,” ujarnya.
Nessy juga menyoroti kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Lampung. Data BMKG menunjukkan beberapa wilayah telah mengalami hari tanpa hujan dalam kategori sangat panjang, dengan sejumlah lokasi tercatat lebih dari 45 hari tanpa hujan dan beberapa mencapai 55 hari. Kondisi tersebut semakin memperkuat perlunya kewaspadaan terhadap potensi karhutla.
Menurut Nessy, masyarakat juga memiliki peran penting dalam mencegah karhutla, terutama dengan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.
“Karhutla bukan hanya persoalan pemerintah. Masyarakat juga menjadi bagian penting dari sistem pencegahan. Kalau ada api atau asap yang mencurigakan, segera laporkan. Jangan dianggap kecil karena dalam kondisi kering api bisa cepat meluas,” katanya.
Nessy menegaskan, perhatian terhadap karhutla di Lampung akan menjadi bagian dari komitmennya dalam menjalankan fungsi sebagai wakil masyarakat Lampung di DPR RI.
“Sebagai wakil rakyat dari Lampung, tentu saya ingin persoalan seperti ini mendapat perhatian. Di Komisi VIII, kita memiliki ruang untuk mengawal aspek mitigasi dan penanggulangan bencana bersama pemerintah dan BNPB. Saya berharap langkah pencegahan di daerah bisa diperkuat sebelum terjadi dampak yang lebih besar,” pungkasnya.
Sementara itu, BPBD Lampung sebelumnya menyatakan terus memantau titik panas selama musim kemarau dan telah berkoordinasi dengan berbagai pihak. BPBD juga menyebut opsi water bombing dapat digunakan apabila karhutla meluas dan sulit dijangkau melalui operasi darat.(*)












