TOPIKINDONESIA.ID – Masih banyak orang mengingat pandemi Covid-19 sebagai masa paling sulit dalam hidup. Aktivitas dibatasi, usaha berhenti, sekolah ditutup, dan ketidakpastian menyelimuti hampir semua sektor. Namun, di tengah situasi itu, ada rasa bahwa semua orang sedang menghadapi krisis yang sama. Pemerintah menggelontorkan berbagai bantuan sosial, restrukturisasi kredit, bantuan UMKM, hingga stimulus ekonomi untuk menjaga daya beli masyarakat.
Kini, pandemi telah berlalu. Jalanan kembali ramai, pusat perbelanjaan penuh, dan aktivitas ekonomi tampak normal. Namun di balik normalitas itu, muncul keluhan yang semakin sering terdengar, termasuk di Lampung.
Pedagang mengaku dagangan sepi, pelaku UMKM kesulitan menjaga omzet, petani menghadapi kenaikan biaya produksi, sementara banyak keluarga merasa pengeluaran terus meningkat. Bagi sebagian warga, tekanan ekonomi saat ini justru terasa lebih berat dibandingkan ketika pandemi berlangsung.
Ada beberapa faktor yang membuat kondisi ini dirasakan demikian. Harga sejumlah kebutuhan pokok dan biaya hidup meningkat, lapangan kerja formal belum sepenuhnya mampu menyerap angkatan kerja baru, sementara persaingan usaha semakin ketat. Di sisi lain, masyarakat tidak lagi menerima berbagai bentuk bantuan darurat seperti pada masa pandemi, sehingga beban ekonomi lebih banyak ditanggung sendiri oleh rumah tangga.
Di Lampung, tantangan tersebut juga dipengaruhi karakter ekonomi daerah yang masih bertumpu pada pertanian, perdagangan, dan usaha mikro. Ketika harga komoditas berfluktuasi atau daya beli melemah, dampaknya cepat dirasakan hingga ke pasar tradisional, warung, dan pelaku usaha kecil. Banyak yang mengaku harus bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan pendapatan yang sama seperti beberapa tahun lalu.
Meski demikian, penting untuk membedakan antara persepsi masyarakat dan kondisi ekonomi secara keseluruhan. Tidak semua indikator ekonomi menunjukkan keadaan yang lebih buruk dibanding masa Covid-19. Sejumlah sektor telah pulih, mobilitas meningkat, dan investasi di beberapa bidang terus berjalan.
Namun, pertumbuhan ekonomi tidak selalu langsung dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Karena itu, ketika warga mengatakan hidup terasa lebih sulit, pengalaman tersebut patut didengar sebagai bagian dari realitas sosial yang sedang mereka hadapi.
Di sinilah pemerintah daerah memiliki peran penting. Program penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, stabilisasi harga kebutuhan pokok, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan produktivitas pertanian perlu terus diperkuat agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih merata. Keberhasilan pembangunan bukan hanya diukur dari angka statistik, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup dengan lebih tenang.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah daerah bukan sekadar bangkit dari pandemi, melainkan mampu menghadirkan harapan baru bagi warganya. Jika semakin banyak masyarakat yang merasa hidup hari ini lebih berat daripada masa Covid-19, maka suara itu layak menjadi bahan evaluasi bersama. Sebab, pembangunan yang baik adalah pembangunan yang benar-benar terasa manfaatnya di meja makan, di pasar, di sawah, dan di rumah-rumah masyarakat.
Tabik Pun!!!












