Dana Hibah Rp35 Miliar di Negeri Limpung

92 views

Catatan Satir dari Negeri yang Sedang Berhemat

Di sebuah provinsi bernama Limpung, kata “efisiensi” menjadi mantra yang diucapkan hampir setiap hari. Setiap rapat diawali dengan ajakan berhemat, setiap kegiatan diminta menyesuaikan anggaran, dan setiap organisasi diminta memahami kondisi keuangan yang sedang tidak baik-baik saja.

Perjalanan dinas dipangkas. Kegiatan seremonial dikurangi. Belanja yang dianggap tidak mendesak ditunda. Bahkan secangkir kopi dalam rapat pun seolah harus mendapat persetujuan semesta terlebih dahulu.

Namun di tengah semangat penghematan itu, tiba-tiba publik mendengar kabar yang cukup menghangatkan suasana. Sebuah dana hibah senilai Rp35 miliar mengalir ke sebuah lembaga penegak hukum. Angka yang cukup besar untuk ukuran daerah yang sedang mengencangkan ikat pinggang.

Masyarakat Limpung pun mulai bertanya-tanya. Mungkin definisi efisiensi memang telah berkembang. Bisa jadi efisiensi bukan lagi soal mengurangi pengeluaran, melainkan soal memastikan pengeluaran besar tetap terlihat hemat bila dibandingkan dengan pengeluaran yang lebih besar lagi.

Di warung kopi, para warga mencoba memahami logika tersebut. Ada yang berpendapat bahwa mungkin uang Rp35 miliar itu sebenarnya hanya Rp35 ribu, hanya saja terjadi salah ketik beberapa nol di belakangnya. Ada pula yang menduga bahwa angka miliaran rupiah kini memang sudah dianggap recehan dalam ilmu fiskal modern.

Mumu menanggapi info itu
“Itu untuk bangunan, yang anggarannya di kantor penegakkan hukum itu dibangun, ditambah dari Rp35 miliar ini. Udah kemarin itu dapat Rp30 miliar dari Kota Bandarngapung. Ini ditambah dari Limpung Rp35 miliar. Apa gak Fantastis sekali. ” ujarnya.

“Badai, bangik temen wah, duit segitu banyaknya.” timpal Mat Beken.

Udin menimpali bahasa itu. “Ah sudah biasa itu, sekarang udah agak susah membedakan mana yang betul karena dibutuhkan atau karena terjadi sesuatu. Jadi saya ogah pikir itu, ah.” timpal Udin.

Sementara itu, berbagai kebutuhan lain masih menunggu perhatian. Jalan yang berlubang tetap setia menunggu tambalan. Fasilitas publik menanti perbaikan. Program pemberdayaan masyarakat berjalan dengan langkah hati-hati. Semua diajak bersabar demi efisiensi.

Tetapi begitulah Negeri Limpung. Di saat sebagian pihak diminta berhemat hingga titik koma terakhir, ada pula pengeluaran yang datang dengan langkah mantap dan angka yang tidak malu-malu. Mungkin inilah bentuk baru dari keadilan anggaran: semua merasakan efisiensi, hanya dengan porsi yang berbeda-beda.

Dan rakyat Limpung kembali melanjutkan aktivitasnya. Mereka tahu satu hal yang pasti: dalam dunia anggaran, terkadang yang paling sulit bukan mencari uangnya, melainkan memahami logikanya.

Tabik pun.!!!