Oleh: Taufik Rohman (Pemimpin Redaksi Topik Indonesia)
ADA benang merah yang mulai terlihat dalam arah pembangunan Lampung hari ini: keberanian keluar dari pola lama. Ketika Gubernur Rahmat Mirzani Djausal berbicara tentang hilirisasi dan penguatan SDM, itu bukan sekadar jargon ekonomi. Ia menemukan relevansinya justru di lapangan—di jalan-jalan yang selama ini tak tersentuh, di desa-desa yang lama tertinggal, dan di akses menuju potensi yang terkunci.
Pernyataan gubernur bahwa Lampung tak boleh lagi hanya menjual bahan mentah merupakan kritik terbuka terhadap masa lalu. Selama ini, komoditas seperti kopi, jagung, dan singkong keluar tanpa nilai tambah. Petani bekerja keras, tetapi kesejahteraan tak ikut naik. Di sinilah hilirisasi menjadi “harga mati”—bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Namun, hilirisasi tanpa infrastruktur hanyalah wacana. Nilai tambah tak mungkin tumbuh jika akses dasar saja belum tersedia.
Dalam konteks itu, langkah konkret mulai terlihat. Teranyar, Rahmat Mirzani Djausal bersama Wakil Gubernur Jihan Nurlela meninjau langsung rencana pelebaran ruas Jalan R.E. Martadinata hingga Lempasing–Padang Cermin, pada Rabu (15/4/2026). Proyek sepanjang 5,888 kilometer ini bukan sekadar pelebaran jalan, tetapi upaya strategis membuka konektivitas menuju kawasan wisata unggulan di pesisir.
Selama ini, keterbatasan kapasitas jalan menjadi persoalan klasik. Kemacetan panjang di akhir pekan menjadi pemandangan biasa, menghambat mobilitas warga sekaligus mengurangi daya tarik wisata. Dengan anggaran sekitar Rp96,3 miliar dan peningkatan lebar jalan hingga 14 meter, pemerintah berupaya menghadirkan solusi konkret: memperlancar arus, meningkatkan kenyamanan, dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas.
Namun pembangunan jalan tidak berhenti di kawasan yang relatif dekat dengan pusat kota. Di wilayah yang lebih jauh dan lebih sunyi, seperti Tanggamus, realitasnya jauh lebih keras.
Bahkan, dalam peninjauan langsung menuju kawasan Gigi Hiu Tanggamus, rombongan gubernur harus menghadapi jalan tanah licin dan ekstrem. Salah satu kendaraan bahkan sempat terperosok—sebuah gambaran nyata bahwa akses menuju destinasi unggulan itu masih jauh dari layak.
Fakta ini penting. Sebab sering kali kebijakan lahir dari laporan, bukan pengalaman langsung. Namun kali ini berbeda. Bersama BMBK Lampung, sekdaprov, gubernur dan wakil gubernur memilih melihat sendiri kondisi lapangan. Dari situlah urgensi pembangunan tidak lagi menjadi angka di atas kertas, tetapi kebutuhan yang mendesak.
Data teknis menunjukkan tantangan yang tidak kecil. Ruas Kiluan–Umbar sepanjang 6,6 kilometer dan Umbar–Putih Doh sepanjang 5,8 kilometer selama ini bahkan belum pernah tersentuh aspal sejak Indonesia merdeka.
Tahun ini baru mulai diperkeras dengan anggaran awal, sementara kebutuhan total masih ratusan miliar rupiah untuk benar-benar menyambungkan jalur pesisir hingga tembus ke Kota Agung.
Di titik inilah pembangunan jalan dan hilirisasi bertemu. Ketika akses terbuka, distribusi hasil pertanian menjadi lebih efisien. Ketika konektivitas membaik, investasi lebih mungkin masuk. Ketika wisata berkembang, ekonomi lokal ikut terangkat. Efek berantai ini menunjukkan bahwa jalan bukan sekadar infrastruktur, melainkan fondasi transformasi ekonomi.
Tentu, tantangan masih panjang. Hilirisasi membutuhkan dukungan industri, teknologi, dan SDM yang kuat. Infrastruktur harus dijaga kualitasnya, bukan sekadar dibangun. Program penguatan desa dan peningkatan keterampilan tenaga kerja akan menjadi penentu apakah transformasi ini berkelanjutan atau hanya berhenti sebagai narasi.
Namun satu hal yang tak bisa diabaikan: arah sudah mulai jelas. Lampung tidak lagi hanya berbicara tentang potensi, tetapi mulai bergerak menjemputnya. Dan seperti banyak perubahan besar dalam sejarah, semuanya sering kali dimulai dari langkah yang sederhana—membuka jalan.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan, tetapi dari sejauh mana ia menyentuh yang selama ini tertinggal. Jika hilirisasi adalah masa depan, maka jalan-jalan yang berada di pinggiran ini adalah pintu masuknya. Dan keberanian politiklah yang akan menentukan apakah pintu itu benar-benar terbuka.
Tabik Pun.












