Diarit untuk Bertahan: Asa Petani di Sawah yang Digigiti Tikus

299 views

TOPIKINDONESIA.ID – Pagi itu, Pak Jamsari berdiri lama di pematang sawahnya. Matahari belum tinggi, tapi bekas luka di hamparan padi sudah terlihat jelas. Batang-batang yang semestinya tegak kini rebah, patah di bagian tengah, digigiti tikus yang datang diam-diam saat malam.

Ia menghela napas panjang.
Beberapa hari lalu, sawah ini masih hijau merata. Kini, di banyak petak, padi tampak seperti berhenti tumbuh. Jejak kaki kecil di lumpur menjadi saksi betapa serangan itu datang berulang, tanpa ampun.

“Tikusnya datang malam-malam,” kata Jamsari pelan. “Sekali datang, ramai.”

Jamsari adalah petani padi di desa Penengahan Kecamatan Way Khilau Kabupaten Pesawaran itu. Sawah yang ia garap tak luas, hanya cukup untuk menyambung hidup keluarga kecilnya. Dari lahan itulah ia berharap bisa menutup biaya sekolah anak, memenuhi kebutuhan dapur, dan menyimpan sedikit untuk musim tanam berikutnya. Karena itu, setiap batang padi yang roboh terasa seperti kehilangan yang tak bisa dianggap sepele.

Beberapa malam terakhir, Jamsari nyaris tak tidur. Ia berjaga dengan senter kecil, menggantung kaleng bekas di pematang, berharap bunyinya bisa mengusir tikus. Tapi tikus selalu punya cara sendiri. Saat penjaga lelah, mereka kembali.

Ketika serangan makin meluas, Jamsari akhirnya mengambil keputusan berat: padi yang rusak harus diarit.
Pagi itu, sabit kecil di tangannya bergerak perlahan. Batang-batang padi yang digigiti dipotong rendah, menyisakan pangkal yang masih tertanam kuat di lumpur. Mengarit bukan tanda menyerah. Justru sebaliknya—itu ikhtiar terakhir agar sawah tak benar-benar mati.

“Kalau diarit, masih ada harapan tumbuh tunas baru,” ucapnya lirih, Minggu (4/1/2025).

“Kalau dibiarkan, habis semua.”

Ia paham betul risikonya. Panen akan mundur. Hasil tak akan seperti semula. Tapi di antara pilihan buruk, itu yang paling mungkin menyelamatkan sisa harapan. Dari pangkal-pangkal itulah Jamsari menggantungkan doa, berharap anakan baru tumbuh, menutup luka yang ditinggalkan gigitan tikus.

Di desa, serangan tikus sawah bukan cerita baru. Setiap musim, kisahnya berulang. Gropyokan sudah dilakukan, racun sudah dicoba, tapi hasilnya sering tak sebanding dengan kerugian. Bagi petani kecil seperti Jamsari, kerugian sekecil apa pun terasa berat.

“Capeknya bukan di badan,” katanya, menatap sawah yang kini lebih pendek dari sebelumnya. “Capeknya di hati, takut gagal panen.”

Meski begitu, Jamsari tak benar-benar kehilangan harapan. Bersama petani lain, ia masih berjaga bergiliran. Mereka saling menguatkan, berbagi cerita, dan menahan cemas dengan cara masing-masing. Di tengah keterbatasan, kebersamaan menjadi satu-satunya benteng.

Menjelang siang, matahari naik perlahan. Sawah tampak lebih sunyi, lebih pendek, tapi belum mati. Jamsari melangkah pulang dengan kaki berlumpur dan sabit di tangan. Di balik kelelahan itu, ia masih menyimpan keyakinan kecil.

Selama padi masih mau bertunas, selama tanah belum benar-benar menyerah, asa itu akan tetap ia jaga.
Di sawah yang digigiti tikus, Jamsari belajar satu hal: kadang, untuk bertahan hidup, yang harus dipotong bukan harapan—melainkan batang yang terluka, agar kehidupan bisa tumbuh kembali.(*)