Langkah yang Tertinggal

414 views

HUJAN masih jatuh dengan suara pelan, seperti mengiringi detak waktu yang lambat. Studio kecil itu, sepetak ruangan dengan karpet tipis dan dinding setengah lembab, menjadi saksi bisu perjuangan dua anak muda yang menolak berhenti bermimpi.

Awan (pria muda kalem) duduk bersila, memeluk gitar akustiknya. Senarnya mulai berkarat, tapi nadanya masih cukup jernih untuk menemani malam. Di hadapannya, Dira membungkuk menatap layar laptop yang sudah dua kali mati sendiri. Ia mendesah pelan.

“Awan, laptopnya ngambek lagi,” keluhnya.

Awan menoleh dan tersenyum tipis. “Mungkin dia butuh istirahat. Kayak kita.”

Dira tertawa kecil, tapi ada lelah di matanya. “Istirahat? Kalau kita istirahat, mimpi kita bisa benar-benar mati, Wan.”

Awan meletakkan gitarnya, lalu meraih tangan Dira. Hangat. Gemetar kecil. “Kita nggak pernah benar-benar istirahat, Dir. Kita cuma melambat. Tapi kita nggak mundur.”

Dira mengangguk, tapi matanya berkaca-kaca. “Aku cuma… kadang takut. Takut semua ini sia-sia. Kita udah buang banyak waktu, tenaga, bahkan rasa cinta kita juga sempat goyah. Kalau semua ini ujungnya tetap gagal… kita tinggal apa?”

Hening beberapa detik. Awan menatap wajah Dira dalam-dalam. Wajah yang dulu selalu percaya diri, kini penuh tanya. Tapi justru di situlah letak keindahannya. Ia rapuh, tapi masih memilih tinggal.

“Kita tinggal kita, Dir. Kita nggak pernah punya apa-apa selain mimpi dan keberanian buat jalanin. Kalau gagal lagi, ya kita jatuh lagi. Tapi, lihat… kita masih duduk di sini, bareng. Itu artinya kita belum kalah.”

Dira menggigit bibirnya, menahan isak. Ia tahu, Awan tidak sedang bicara untuk menghibur. Itu kenyataan. Mereka pernah nyaris bubar, bukan karena tak cinta, tapi karena kelelahan. Dunia ini terlalu bising untuk suara-suara kecil seperti mereka.

“Masih inget lagu pertama yang kita tulis bareng?” tanya Awan, mencoba mengganti suasana.

“Yang waktu di taman, pas kita kabur dari acara pernikahan temenmu?” Dira tersenyum samar.

Awan mengambil gitarnya lagi. Ia memetik pelan. Nadanya sumbang, tapi cukup untuk memunculkan kenangan. Dira ikut menyenandungkan bait pertamanya.

“Kita bukan siapa-siapa… tapi kita punya cerita…”

Lagu itu tak pernah mereka rilis. Terlalu pribadi. Tapi malam itu, lagu itu terasa seperti nyawa.

Tiba-tiba ponsel Dira berbunyi. Ia menoleh. Matanya membesar.

“Awan… kamu lihat ini?!”

“Apa?”

Dira membalikkan layar ponselnya ke arah Awan. Sebuah akun TikTok dengan ratusan ribu views. Video mereka sedang menyanyi di trotoar tiga minggu lalu—yang direkam diam-diam oleh seorang penonton.

Komentarnya penuh dengan pujian. Orang-orang mulai mencari tahu siapa mereka.

Dira terisak, tapi kini isaknya berubah jadi tawa.

“Kita viral, Wan! Lagu kita—yang kita nyanyiin cuma buat ngusir sepi—orang-orang suka!”

Awan terdiam, lalu pelan-pelan tersenyum. “Mungkin ini awal yang baru.”

“Mungkin ini hadiah karena kita nggak berhenti,” bisik Dira.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, hujan terdengar seperti tepuk tangan. Menghilangkan segala kekhawatiran dan getir. (***)