Bandar Lampung – Mantan aktivis mahasiswa era reformasi dan juga mantan ketua KNPI Kota Bandar Lampung, M. Irfandi mengungkapkan keprihatinannya terhadap trend demonstrasi yang belakangan ini kehilangan arah dan etika.
M. irfandi menyampaikan bahwa demonstrasi merupakan hak demokratis, namun tetap harus dilakukan dengan cara yang bermartabat dan bertanggung jawab.
“Demonstrasi adalah instrumen penting dalam perjuangan sipil, tapi ketika berubah menjadi aksi anarkis, berkata kasar, merusak fasilitas umum, dan mengganggu ketertiban, maka pesan moralnya justru hilang”, ujar Irfandi, Rabu (30/04)
Diungkapkannya dalam beberapa aksi baru-baru ini yang digelar di kantor wali Kota Banar Lampung, cenderung kasar dengan melontarkan kata-kata yang tidak beretikan yang lebih memperhatinkan para pendemo melakukan kekerasan verbal kepada petugas yang hanya menjaga aset negara.
Menurutnya, perbedaan pandangan politik dan sosial harus disampaikan secara konstruktif, dan saat ini generasi muda perlu dibekali dengan pemahaman etika berdemonstrasi yang sehat.
“Harusnya tangkap itu dalang yang memprovokasi mereka. Jangan jadikan bencana alam untuk alat politik dalam menjatuhkan walikota. Kami dulu turun ke jalan membawa nilai dan harapan, bukan sekadar amarah dan kepentingan politik”, tambahnya saat melakukan aksi damai mensikapi isu negative penanganan banjir.
Dalam aksi damai yang di lakukan di depan kantor kelurahan pesawahan, sebagai buntuk dukungan masyarakat atas upaya pemerintah kota bandar lampung dalam pencegahan dan penaganan bencana banjir.
“kami bukan aparat kelurahan. Kami adalah rakyat yang dulu terkena banjir, kami tidak dibayar. Kami tidak terima atas ucapan 8 pendemo yang menyebutkan. Pemerintah Kota tidak bekerja”, tutup Irfandi. (BP)












