TOPIKINDONESIA.ID – Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Minggu malam, 6 September 2026. Pemerintah Provinsi Lampung meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi abu vulkanik dan dampak kesehatan.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menyampaikan imbauan tersebut dalam konferensi pers, Senin (7/9/2026). Pemprov memastikan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan menghadapi kemungkinan meningkatnya jumlah warga terdampak.
Berdasarkan pemantauan, erupsi terjadi pada pukul 20.23 WIB dengan amplitudo 58 milimeter dan durasi 44 detik. Aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau juga masih fluktuatif.
Pada periode pengamatan pukul 06.00–12.00 WIB, Senin (7/9/2026), gunung tersebut masih berstatus Level III atau Siaga. Tercatat sembilan kali gempa harmonik, 17 gempa Low Frequency, dua gempa hembusan/fase banyak dan satu kali Tremor Menerus.
Pemprov Lampung juga menyoroti kualitas udara. Konsentrasi sulfur dioksida (SO₂) di Bandar Lampung dan sekitarnya dilaporkan berada pada kisaran 212–224 µg/m³ dan masuk kategori tidak sehat.
Pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah Lampung menemukan partikel abu vulkanik berukuran sekitar 5–10 mikrometer dengan permukaan tidak beraturan dan cenderung tajam. Abu tersebut berpotensi menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mata dan kulit.
Pemprov mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah, menggunakan masker jika harus keluar, serta menutup pintu, jendela dan ventilasi.
“Abu yang menempel di rumah sebaiknya dibersihkan menggunakan air dan tidak disapu dalam kondisi kering,” tambah Sekdaprov Marindo Kurniawan.
Masyarakat juga diminta menjauhi radius minimal lima kilometer dari Gunung Anak Krakatau serta memberi perhatian khusus kepada balita, ibu hamil, lansia dan warga dengan penyakit kronis. Informasi perkembangan erupsi diimbau hanya mengacu pada sumber resmi BMKG, PVMBG dan BPBD Lampung.(*)












