Di Garis Depan Karhutla Way Kambas, Nessy Pastikan Relawan Tak Berjuang Sendirian

28 views

TOPIKINDONESIA.ID – Perahu karet milik BNPB bergerak perlahan menyusuri kanal yang menjadi batas antara kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas dan lahan masyarakat.

Di satu sisi terbentang kawasan hutan konservasi. Di sisi lainnya, sawah dan ladang warga menjadi ruang kehidupan masyarakat.

Di atas perahu tersebut, pada Senin, 24 Agustus 2026, Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi Partai NasDem, Nessy Kalvia, bersama tim menyusuri kanal menuju lokasi titik api.

Nessy sengaja turun langsung ke lapangan. Ia ingin melihat dari dekat kondisi yang dihadapi petugas dan relawan, sekaligus memahami medan yang harus mereka lalui untuk mencapai titik kebakaran.

Perjalanan menyusuri kanal menggunakan perahu karet BNPB memperlihatkan bahwa mencapai lokasi titik api bukan perkara mudah. Jalur darat tidak selalu memungkinkan.

Kanal menjadi salah satu akses untuk mendekati lokasi yang sulit dijangkau. Sesampainya di lokasi, Nessy melihat langsung petugas dan relawan yang masih berjibaku melakukan penanganan.

Di tengah panas dan asap, mereka membawa peralatan, menyisir kawasan dan melakukan pemadaman agar api tidak kembali meluas.

Ada yang mengoperasikan peralatan pemadaman. Ada yang mengangkut kebutuhan di lapangan. Ada pula yang terus memantau titik-titik yang berpotensi kembali terbakar.

Mereka datang ketika sebagian orang memilih menjauh dari api. Dan justru kepada orang-orang inilah perhatian Nessy tertuju.

“Saya melihat langsung bagaimana teman-teman di lapangan bekerja. Mereka bukan hanya membutuhkan semangat, tetapi juga perlindungan dan fasilitas yang memadai,” ujar Nessy.

Menurut Nessy, penanganan karhutla tidak boleh hanya diukur dari seberapa cepat api dapat dikendalikan. Keselamatan manusia yang berada di garis depan juga harus menjadi bagian utama.

Para petugas dan relawan menghadapi panas, asap, medan yang berat dan risiko munculnya kembali titik api. Sementara di belakang mereka ada keluarga yang menunggu kepulangan.

“Jangan sampai kita hanya fokus menyelamatkan hutannya, tetapi lupa menjaga manusia yang sedang berjuang menyelamatkannya. Mereka juga punya keluarga yang menunggu di rumah,” kata Nessy.

Karhutla Way Kambas kembali menjadi perhatian setelah muncul titik api baru. Tim gabungan terus melakukan penanganan dan pemantauan di lapangan. TNI, Polri, Brimob Polda Lampung, petugas TNWK, BPBD, pemadam kebakaran, relawan dan masyarakat terlibat dalam penanganan.

Menurut Nessy, keterlibatan banyak unsur menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama sekaligus kesiapan fasilitas.

Ia mendorong agar dukungan bagi petugas dan relawan diperkuat, mulai dari alat pelindung diri, masker, logistik, sarana komunikasi hingga peralatan pendukung pemadaman.

“Mereka yang berada paling depan ketika api muncul harus menjadi orang yang paling kita lindungi. Jangan sampai kita meminta mereka bekerja maksimal, tetapi perlengkapannya tidak maksimal,” tegas Nessy.

Sebagai Anggota Komisi VIII DPR RI dari Daerah Pemilihan Lampung II, yang meliputi Lampung Tengah, Lampung Timur, Lampung Utara, Way Kanan, Tulang Bawang, Mesuji dan Tulang Bawang Barat, Nessy mengatakan apa yang dilihat dan didengarnya secara langsung akan menjadi bahan untuk menjalankan fungsi pengawasan DPR RI serta mendorong penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.

Menurutnya, kesiapsiagaan tidak boleh baru dibangun ketika api sudah membesar. Peralatan harus tersedia sebelum dibutuhkan. Petugas harus mendapatkan perlindungan yang layak.

Jalur menuju lokasi harus dipahami. Dan koordinasi antara pemerintah, aparat, pengelola kawasan serta masyarakat harus terus diperkuat.

“Kalau kita ingin mereka bekerja maksimal, kita juga harus memastikan mereka bekerja dengan aman. Perlindungan bagi relawan dan petugas bukan tambahan, tetapi bagian dari penanganan bencana itu sendiri,” ujar Nessy.

Nessy mengapresiasi kerja keras seluruh unsur yang terlibat. Baginya, relawan bukan sekadar tenaga tambahan ketika bencana terjadi. Mereka adalah bagian dari kekuatan masyarakat yang berada di garis depan ketika kawasan dan lingkungan membutuhkan pertolongan.

Karena itu, perhatian kepada mereka tidak boleh berhenti pada ucapan terima kasih.
“Saya ingin mereka tahu bahwa perjuangan mereka dilihat dan didengar. Mereka tidak sendirian. Apa yang mereka butuhkan harus kita perjuangkan bersama,” kata Nessy.

Perahu karet BNPB kemudian membawa Nessy dan tim meninggalkan lokasi. Di satu sisi, hutan Way Kambas tetap menjadi rumah bagi satwa dan ekosistem yang harus dilindungi. Di sisi lain, sawah dan ladang warga menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Di antara keduanya, kanal menjadi batas yang memperlihatkan betapa dekatnya kawasan konservasi dengan kehidupan warga.

Dan di tengah semua itu, para relawan tetap berada di garis depan. Mereka menjaga hutan. Mereka membantu melindungi kehidupan masyarakat. Dan mereka juga berhak untuk dijaga.

Sebagai wakil rakyat, Nessy menegaskan komitmennya agar perjuangan para petugas dan relawan di lapangan tidak berhenti menjadi cerita ketika bencana datang.

“Way Kambas harus kita jaga. Masyarakat harus kita lindungi. Dan orang-orang yang berdiri di garis depan untuk menjaga semuanya, harus kita pastikan juga pulang dengan selamat,” pungkas Nessy. (**)