Dua Anak Harimau Sumatera Lahir di Lembah Hijau

31 views

TOPIKINDONESIA.ID – Lembaga Konservasi Lembah Hijau mencatat sejarah baru dalam upaya pelestarian satwa langka setelah berhasil memfasilitasi kelahiran dua anak harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) pada 14 Februari 2026. Kelahiran ini menjadi sorotan karena kedua harimau itu merupakan penyintas jerat pemburu liar dengan kondisi cacat permanen.

Dua harimau tersebut, sang ayah Kyai Batua dan sang ibu Sinta, sebelumnya mengalami luka serius akibat jerat di habitat alaminya. Kyai Batua, yang dievakuasi dari Suoh, Lampung Barat pada 2019, harus kehilangan kaki kanan depan setelah diamputasi. Sementara Sinta, yang diselamatkan dari Bengkulu pada 2024, kehilangan kaki kanan belakang akibat infeksi parah.

Meski hidup dengan keterbatasan fisik, keduanya berhasil berkembang biak, menandai keberhasilan konservasi ex-situ yang tidak hanya menyelamatkan individu, tetapi juga menjaga keberlanjutan genetik spesies kunci di Sumatera.

Komisaris Lembah Hijau, M. Irwan Nasution, menyebut kelahiran ini sebagai bukti nyata keberhasilan program konservasi terpadu. “Ini menjadi pesan kuat bahwa satwa korban konflik manusia masih memiliki peluang untuk bertahan dan berkembang jika ditangani dengan tepat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (4/5/2026).

Keberhasilan ini merupakan bagian dari program Global Species Management Plan (GSMP) fase III dan IV, hasil kolaborasi antara Kementerian Kehutanan dan Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) dalam mengelola populasi satwa langka secara terencana.

Saat ini, kedua anak harimau berada dalam pengawasan intensif tim medis dan paramedis. Lembah Hijau juga telah menyiapkan kandang khusus yang dirancang menyerupai habitat alami guna mendukung pertumbuhan optimal.

Kelahiran ini tidak hanya menjadi kabar menggembirakan bagi dunia konservasi, tetapi juga menjadi pengingat akan ancaman nyata jerat pemburu yang masih mengintai satwa liar di hutan Sumatera. Selain itu, kehadiran dua individu baru ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian satwa dan ekosistemnya. (*)