Gubernur Mirza Tantang Unila Jadi Motor Transformasi Ekonomi Lampung

12 views

TOPIKINDONESIA.ID – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menantang Universitas Lampung (Unila) mengambil peran lebih besar sebagai motor transformasi ekonomi daerah melalui riset, inovasi, dan hilirisasi komoditas unggulan.

Hal itu disampaikan Gubernur Mirza saat menghadiri Rapat Luar Biasa Senat Unila dalam rangka Dies Natalis ke-61 di Gedung Serba Guna (GSG) Unila, Rabu (23/9/2026).

Menurut Mirza, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mengubah kekayaan sumber daya alam Lampung menjadi produk bernilai tambah. Karena itu, Unila diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi penggerak perubahan ekonomi daerah.

“Unila ke depan setelah 61 tahun ini harus bisa menjadi kampus, menjadi motor transformasi. Bagaimana ekonomi yang diputar ini, yang diubah ini, motor transformasinya adalah Unila,” ujar Mirza.

Ia mengatakan, Pemerintah Provinsi Lampung ingin memperkuat keterhubungan antara potensi pangan, industri, sumber daya manusia, dan perguruan tinggi. Unila dinilai memiliki kapasitas untuk mengambil peran lebih besar melalui riset dan inovasi yang sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan daerah.

Lampung, kata Mirza, memiliki kekuatan besar pada sektor pangan dan pertanian. Sejumlah komoditas unggulan seperti padi, jagung, singkong, nanas, pisang, lada, tebu, kopi, kelapa, kakao hingga kelapa sawit menjadi modal ekonomi daerah.

Sekitar 70 persen penduduk Lampung disebut menggantungkan aktivitas ekonominya pada sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Karena itu, perubahan harga komoditas memiliki dampak langsung terhadap daya beli dan kesejahteraan masyarakat.

Mirza menyebut kenaikan harga sejumlah komoditas turut mendorong daya beli masyarakat Lampung. Hal tersebut antara lain tercermin dari peningkatan pembelian sepeda motor secara tahunan sebesar 20 persen dan mobil sebesar 40 persen pada 2026.

Namun, menurutnya, kenaikan harga komoditas saja belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung secara maksimal. Pertumbuhan ekonomi Lampung saat ini disebut berada di angka 5,5 persen, sementara untuk mendukung target Indonesia Emas diperlukan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.

Salah satu tantangan utama yang harus dihadapi adalah rendahnya tingkat hilirisasi. Dari sekitar Rp165 triliun nilai sektor primer Lampung, baru sekitar 40 persen yang telah dihilirisasi. Sebagian besar komoditas lainnya masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.

“Enggak banyak anak Unila yang terlibat hilirisasi tebu menjadi gula. Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat hilirisasi jagung jadi pakan. Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat hilirisasi dari singkong jadi tapioka, jadi glukosa, jadi sorbitol dan lain-lain,” tegas Mirza.

Ia mencontohkan singkong sebagai salah satu komoditas yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Lampung selama ini menjadi salah satu sentra singkong nasional dan memasok sekitar 70 persen produksi tapioka Indonesia.

Namun, produktivitas singkong Lampung masih di bawah 25 ton per hektare, sementara potensinya disebut dapat mencapai 40 hingga 60 ton per hektare.

Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas padi dan jagung. Produktivitas padi Lampung saat ini sekitar 6 ton per hektare dari potensi 10 ton, sedangkan jagung sekitar 5 ton per hektare dari potensi 10 ton.

Untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat hilirisasi singkong, Pemprov Lampung bersama Unila mendorong pengembangan National Cassava Center.
Pengembangan bibit unggul singkong ditargetkan mulai dilakukan tahun depan. Selanjutnya, produktivitas singkong ditargetkan meningkat hingga dua kali lipat pada 2027.

Peningkatan produktivitas tersebut juga diarahkan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen tapioka dunia.

Menurut Mirza, peningkatan produktivitas singkong akan memberikan dampak langsung bagi masyarakat karena hampir 500 ribu penduduk Lampung menggantungkan aktivitas ekonominya pada komoditas tersebut.

Hilirisasi juga dinilai membuka peluang pengembangan berbagai produk turunan, seperti glukosa dan maltosa, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Selain sektor pertanian dan industri, Mirza menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia. Generasi Z dan post-Gen Z disebut mencapai 42,77 persen atau hampir 5 juta orang dari total penduduk Lampung.

Kelompok tersebut dinilai menjadi kekuatan penting dalam menopang pembangunan ekonomi daerah pada masa mendatang.
Karena itu, kolaborasi Pemprov Lampung dan Unila diharapkan tidak berhenti pada pengembangan teknologi dan produk baru, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas SDM, menciptakan lapangan kerja formal, serta memperbesar nilai ekonomi dari potensi pangan Lampung.

Sementara itu, pada Dies Natalis ke-61, Unila mengusung semangat “Be Strong”, dari kampus yang kuat menuju kampus yang berdampak.

Rektor Unila Prof Lusmeilia Afriani menyampaikan bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari program maupun capaian kelembagaan, tetapi juga dari manfaat riset, inovasi, kebijakan, serta pengabdian yang dapat dirasakan masyarakat.

Kolaborasi pemerintah daerah dan perguruan tinggi diharapkan semakin memperkuat posisi Unila sebagai penghubung antara pengetahuan, inovasi, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat dalam mendorong transformasi ekonomi Lampung.(*)