Yang Tak Kau Tahu

576 views

RAY duduk di balkon rumahnya, menatap langit senja yang mulai memerah. Angin malam bertiup pelan, membawa aroma tanah basah yang khas dari hujan sore. Ia sering duduk di sini, menyendiri. Menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar datang, tapi selalu terasa dekat. Suara langkah kaki Rani yang ringan, tawa kecilnya yang seolah bisa menyentuh segala yang beku dalam hatinya, semua itu masih terngiang dalam kepalanya.

Tapi sekarang, semuanya sudah berbeda.

Rani sudah memilih pergi. Pergi bukan karena ia tidak mencintai Ray, tapi karena ketakutan yang begitu dalam dalam dirinya. Ketakutan akan kehilangan, ketakutan akan kecewa. Rani lebih memilih mundur, memilih untuk menjaga jarak, daripada menghadapi kemungkinan untuk terluka.

Ray tidak pernah mengerti sepenuhnya alasan Rani pergi. Mereka sudah melalui banyak hal bersama—perjalanan singkat yang penuh tawa, diskusi panjang yang kadang melelahkan, dan malam-malam yang diisi dengan keheningan yang nyaman. Mereka begitu dekat, tapi tetap ada jurang yang tak bisa ia lampaui. Jurang yang dibangun oleh ketidakpastian yang ada dalam hati Rani.

Dan Ray tahu, ia hanya bisa menunggu. Menunggu Rani menyadari bahwa ia selalu ada di sana, menunggu Rani mengerti bahwa ia tak perlu takut lagi.

Namun, yang tak pernah Rani ketahui adalah betapa besar perasaan Ray padanya. Betapa ia ingin sekali membicarakan semuanya. Betapa ia ingin memberitahunya bahwa, meskipun ia tak pernah memintanya untuk tetap tinggal, ia tak akan pernah berhenti menunggu.

Sampai suatu malam, beberapa bulan setelah Rani pergi, mereka bertemu lagi di tempat yang sama. Di warung kopi kecil yang dulu menjadi tempat mereka berbicara tanpa batas.

Ray duduk di meja yang biasa mereka duduki. Kopinya sudah dingin, tapi ia tidak peduli. Hatinya berdebar-debar, menunggu sesuatu yang tak pasti. Hanya ada rasa hampa yang menggantung di udara, seolah waktu berhenti sejak terakhir kali mereka bertemu.

Rani datang, mengenakan jaket abu-abu yang dulu sering ia pinjamkan. Matanya tampak lelah, namun ada sesuatu yang berbeda. Mungkin itu adalah kebesaran hati yang mulai tampak, atau mungkin hanya secercah harapan yang tiba-tiba muncul kembali.

“Mau minum apa?” tanya Ray, berusaha tetap tenang meski hatinya bergejolak.

“Cappuccino, seperti biasa,” jawab Rani, suaranya sedikit serak.

Mereka duduk dalam diam. Ray menatap Rani, berusaha membaca setiap gerak tubuhnya, setiap ekspresi wajahnya. Ada sesuatu yang hilang dalam tatapan Rani, namun juga ada secercah harapan. Harapan yang sama seperti yang ia rasakan, meski ia tahu itu tidak mudah untuk ditemukan kembali.

“Aku minta maaf,” kata Rani tiba-tiba, suaranya hampir tak terdengar.

Ray menatapnya. “Untuk apa?”

“Untuk pergi tanpa memberi penjelasan. Untuk membiarkan kamu menunggu tanpa tahu apa yang terjadi.” Rani menunduk, seolah tidak sanggup menatap mata Ray. “Aku takut, Ray. Aku takut terlalu mencintaimu, takut kalau aku akan kehilanganmu, seperti yang terjadi pada orang-orang yang aku cintai.”

Ray menggenggam tangan Rani dengan lembut. “Kamu tidak pernah perlu takut itu. Aku di sini, Ran. Aku tidak akan pergi.”

Rani mengangkat kepalanya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, matanya tidak lagi terlihat penuh keraguan. Ada sedikit ketenangan yang tercipta, meskipun masih ada jarak yang harus ditempuh. Namun, Ray tahu, mereka tidak perlu terburu-buru.

“Dulu aku merasa kamu selalu ada di sana, tapi aku terlalu sibuk dengan ketakutanku sendiri untuk melihat itu,” kata Rani. “Dan sekarang aku mengerti, bahwa aku tidak bisa terus melarikan diri dari perasaan ini. Aku takut kehilanganmu, tapi aku lebih takut lagi kalau aku terus berlari dari kenyataan yang sudah jelas sejak awal.”

Ray tersenyum tipis, lalu berkata dengan suara yang hampir berbisik, “Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi, Ran. Tapi yang pasti, aku akan selalu di sini, menunggu kamu.”

Rani terdiam sejenak, lalu perlahan-lahan, ia meraih tangan Ray dan menggenggamnya erat. Mereka duduk di sana, di tengah malam yang sunyi, dengan perasaan yang saling menguatkan meskipun tidak ada kata-kata lebih lanjut yang perlu diucapkan.

Kadang, yang tak terucap lebih kuat daripada kata-kata yang kita sampaikan. Dan meskipun banyak hal yang belum selesai, mereka berdua tahu bahwa perasaan yang saling dipendam tak perlu lagi menjadi luka.

“Dan malam itu, di antara gelas-gelas kopi yang mendingin, mereka mulai belajar bahwa cinta tak harus selalu diteriakkan untuk tetap ada.”

. … Ngupi Pai…