Dari IKN ke Asia Pasifik, Ilham Malik Dipercaya Pimpin Sustainable Infrastructure UCLG ASPAC

33 views

TOPIKINDONESIA.ID – Pengalaman panjang di antara ruang kebijakan publik, pembangunan wilayah, transportasi dan dunia akademik kini membawa Dr. Eng. IB Ilham Malik ke panggung yang lebih luas.

Mulai 1 Agustus 2026, Ilham dipercaya menjabat sebagai Managing Director Sustainable Infrastructure pada City and Local Government Institute (CLGI), United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC).

Penunjukan ini menandai babak baru perjalanan profesional Ilham. Jika sebelumnya ia banyak berkutat dalam agenda pembangunan nasional, kini pengalamannya dibawa ke ruang regional yang mencakup kota dan pemerintah daerah di kawasan Asia Pasifik.

CLGI merupakan bagian dari UCLG ASPAC yang bergerak dalam pengembangan pengetahuan, riset dan penguatan kapasitas pemerintah daerah. Dalam arah strategis UCLG ASPAC 2026–2030, lembaga ini memiliki peran penting dalam menjembatani dunia riset dengan kebutuhan nyata pemerintah daerah.

Di posisi barunya, Ilham akan berhadapan dengan tantangan pembangunan yang semakin kompleks.

Infrastruktur hari ini tidak lagi sekadar berbicara tentang jalan, jembatan dan transportasi. Di dalamnya terdapat persoalan perubahan iklim, ketahanan kota, tata ruang, pembiayaan, investasi, teknologi hingga kualitas pelayanan publik.

Dari Lingkar Kebijakan Nasional ke Panggung Regional

Jabatan baru tersebut tidak datang secara tiba-tiba.

Perjalanan profesional Ilham selama beberapa tahun terakhir memang banyak bersentuhan dengan kebijakan transportasi dan pembangunan wilayah.

Pada 2022–2023, ia dipercaya sebagai Staf Khusus Kebijakan Strategis Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan.
Pengalaman itu kemudian membawanya ke Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) pada 2024 sebagai Staf Ahli Kepala OIKN bidang Kebijakan Transportasi Nusantara.

Di tengah pembangunan IKN yang menjadi salah satu proyek strategis Indonesia, Ilham terlibat dalam berbagai isu yang berkaitan dengan sistem transportasi, tata ruang, angkutan umum, teknologi dan pengembangan kawasan.

Setelah itu, pada 2025, ia dipercaya menjadi Senior Advisor di Kantor Staf Presiden Republik Indonesia hingga Desember 2025.

Posisi tersebut memperluas pengalamannya dalam melihat pembangunan dari perspektif yang lebih lintas sektor—mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN hingga berbagai pemangku kepentingan.

Dari perjalanan itu, satu benang merah terlihat jelas: transportasi, tata ruang, infrastruktur, investasi dan pembangunan wilayah merupakan isu yang saling terhubung.

Kembali ke Kampus, Membawa Pengalaman Lapangan

Usai menyelesaikan penugasannya di Kantor Staf Presiden, Ilham kembali ke dunia akademik.
Ia kembali menjalankan aktivitas sebagai dosen pada Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Sumatera (PWK ITERA).
Di kampus, ia kembali aktif dalam penelitian dan pengembangan gagasan mengenai kota, transportasi serta pembangunan wilayah.

Di luar aktivitas akademik, Ilham juga tetap menjalankan kegiatan profesional di bidang konsultansi lingkungan hidup dan lalu lintas.
Pilihan itu membuat perjalanan profesionalnya berada di tiga ruang sekaligus: akademik, praktik pembangunan dan kebijakan publik.
Kini, ketiganya bertemu dalam panggung yang lebih luas.

Membawa Pengalaman Indonesia ke Asia Pasifik
Sebagai Managing Director Sustainable Infrastructure CLGI, Ilham diharapkan berkontribusi dalam pengembangan riset, rekomendasi kebijakan dan kerja sama terkait pembangunan infrastruktur berkelanjutan bagi kota dan pemerintah daerah di kawasan Asia Pasifik.

Peran tersebut sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman.

Praktik pembangunan yang berkembang di Indonesia dapat menjadi bagian dari diskusi regional. Sebaliknya, pengalaman kota-kota lain di Asia Pasifik dapat menjadi referensi baru bagi pemerintah daerah di Indonesia.
Karena itu, penunjukan Ilham bukan sekadar perpindahan jabatan.

Ini merupakan perluasan ruang pengabdian—dari Kementerian Perhubungan, IKN, Kantor Staf Presiden, kemudian kembali ke kampus dan dunia profesional, hingga akhirnya memasuki ruang kerja sama pembangunan tingkat Asia Pasifik.

Dari lingkar kebijakan nasional ke panggung regional, pengalaman Indonesia kini dibawa untuk berbicara dalam bahasa pembangunan yang lebih luas.(*)