BI Lampung: Inflasi April 2026 Tetap Terkendali, Waspadai Risiko Cuaca dan Global

74 views

TOPIKINDONESIA.ID – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung memastikan inflasi daerah pada April 2026 masih dalam kondisi terkendali meski mengalami kenaikan secara bulanan.

Deputi Direktur KPw BI Provinsi Lampung, Achmad P. Subarkah, menyampaikan, inflasi Lampung pada April 2026 tercatat sebesar 0,55 persen (month to month/mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,19 persen. Namun secara tahunan, inflasi tetap rendah yakni 0,53 persen (year on year/yoy), jauh di bawah inflasi nasional sebesar 2,42 persen.

Menurut Achmad, kenaikan inflasi terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Beberapa komoditas utama penyumbang inflasi antara lain minyak goreng, ikan nila, beras, cabai merah, serta sigaret kretek mesin.

“Kenaikan harga minyak goreng antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya biaya input kemasan akibat lonjakan harga plastik, sementara harga ikan dan komoditas hortikultura naik seiring permintaan dan kondisi cuaca yang tidak menentu,” jelasnya dalam keterangan yang diterima RRI, Selasa 5 Mei 2026.

Selain itu, berakhirnya masa panen raya dan adanya tunda tanam akibat faktor cuaca turut memicu kenaikan harga beras dan cabai merah. Sementara itu, penyesuaian tarif distribusi juga berkontribusi pada kenaikan harga rokok.

Meski demikian, tekanan inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga sejumlah komoditas seperti cabai rawit dan daging ayam ras, seiring membaiknya pasokan di sentra produksi lokal serta normalisasi permintaan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 2026. Selain itu, penurunan harga emas dunia turut menahan inflasi melalui penurunan harga emas perhiasan.

Ke depan, Achmad P. Subarkah memprakirakan inflasi Lampung akan tetap berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen (yoy) pada akhir 2026. Namun, ia mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diantisipasi.

Risiko tersebut antara lain peningkatan permintaan akibat kenaikan upah minimum, ketidakpastian global yang memengaruhi harga emas dan energi, serta potensi gangguan produksi pangan akibat kondisi cuaca ekstrem dan kemungkinan fenomena El Nino.

“Risiko dari sisi volatile food perlu diwaspadai, terutama terkait rendahnya realisasi tanam dan potensi penurunan curah hujan ke depan yang dapat memengaruhi produksi pangan,” ujarnya.

Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Langkah konkret yang dilakukan antara lain operasi pasar beras, penguatan kerja sama antar daerah, peningkatan infrastruktur distribusi, hingga pemanfaatan teknologi informasi dalam memantau pasokan dan harga pangan.

Dengan sinergi yang terus diperkuat antara Bank Indonesia dan pemerintah daerah, stabilitas inflasi di Provinsi Lampung diharapkan tetap terjaga guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.(*)